Sabtu, 20 Oktober 2012

Nyanyian Para Malaikat


Nyanyian Para Malaikat

 

Di pagi penuh rahmat itu
seorang teman surgawi
memukulkan lidah lonceng
yang keras itu
ke dindingnya yang dingin.
Maka kami pun turun
ke bumi yang sedang mandi.
Dinginnnya!
Wahai! Wahai!

Sambil meluncur-luncur
di atas atap licin basah
dari gereja yang tua itu
kami tunggu
kedatangan sepasang pengantin
yang muda remaja
bagai mentari muda yang malu
di pagi dingin itu/
Dinginnya!
Wahai! Wahai!

Koster gereja yang rajin
telah siapkan roti dan anggur
untuk missa yang suci itu
sementara lilin-lilin telah dipasang
dan bunga-bunga bersebaran

Tuhan Allah Yang Esa
yang selalu dipuja
dalam mazmur bani Israel,
akan menyatukan dua remaja
dalam pelukan cintanya.
Ah, ya!
Dua orang pengantin remaja
akan berpelukan
dalam pagi yang dingin.
Dinginnya!
Wahai! Wahai!

Pagi yang dingin itu
adalah pagi yang mesra,
pagi bunga-bunga mawar,
pagi kemenyan dan kayu cendana.
Dalam sakramen telah disatukan:
dua badan satu jiwa
selapik seketiduran.

Malaikat di Gereja St. Josef


Malaikat di Gereja St. Josef


Di Gereja St. Josef
tanggal 31 Maret 1959
di pagi yang basah
sesosok malaikat telah turun.
Sesosok malaikat remaja
dengan rambut keriting
berayun di lidah lonceng
Maka sambil membuat 
bahana indah
dinyanyikan mazmur
yang mengandung sebuah berita
yang bagus.
Dan kakinya yang putih indah
terjuntai.

Undangan


Undangan


Dengan segala hormat
Kami harapkan kedatangan Tuan, Nyonya dan Nona
untuk menghadiri kami dikawinkan….

Bahan roti dalam adonan
tepung dan ragi disatukan.
Pohonan bertunas dan berbuah
benih tersebar dan berkembang biak
di seluruh muka bumi.

Tempat:
Di Gereja St. Josef, Bintaran, Yogyakarta….

Rumah Tuhan yang tua
pangkuan yang aman Bapa Tercinta
Segala kejadian
mesti bermula di suatu tempat.
Pohon yang kuat
berakar di bumi keramat.

Waktu:
Selasa, tanggal 31 Maret 1959
jam 10 pagi, waktu di Jawa….

Hari baru terbuka
menyambung lingkaran waktu
berputar tak bermula
Sejak cahaya yang pertama
bumi dan lading telah diolah
oleh tangan Sang Sabda yang Agung

Dengan segala hormat
kami ucapkan terima kasih
sebelum dan sesudahnya.

Surat kepada Bunda: Tentang Calon Menantunya


Surat kepada Bunda:

Tentang Calon Menantunya


Mamma yang tercinta,
akhirnya kutemukan juga jodohku
seseorang yang bagai kau:
sederhana dalam tingkah dan bicara
serta sangat menyayangiku.

Terpupuslah sudah masa-masa sepiku.
Hendaknya berhenti gemetar rusuh
hatimu yang baik itu
yang selalu mencintaiku.
KErna kapal yang berlayar
telah berlabuh dan ditambatkan.
Dan sepatu yang berat serta nakal
yang dulu bisaa menempuh
jalan-jalan yang mengkhawatirkan
dalam hidup lelaki yang kasar dan sengsara, 
kini telah aku lepaskan
dan berganti dengan sandal rumah
yang tenteram, jinak dan sederhana.

Mamma,
burung dara jantan yang nakal
yang sejak dulu kau piara 
kini terbang dan telah menemu jodohnya.
Ia telah meninggalkan kandang yang kaubiarkan
dan tiada akan pulang
buat selama-lamanya.

Ibuku,
Aku telah menemukan jodohku.
Janganlah kau cemburu.
Hendaknya hatimu yang baik itu mengerti:
pada waktunya, aku mesti kaulepaskan pergi.

Begitu kata alam. Begini kau mengerti:
Bagai dulu bundamu melepas kau
kawin dengan ayahku. Dan bagai
bunda ayahku melepaskannya
untuk mengawinimu.
Tentu sangatlah berat.
Tetapi itu harus, Mamma!
Dan akhirnya tak akan begitu berat
apabila telah dimengerti
apabila sudah disadari.

Hari Sabtu yang akan datang
aku akan membawakannya kepadamu.
Ciumlah kedua pipinya
berilah tanda salib di dahinya
dan panggilah ia dengan keras: Anakku!

Bila malam telah datang
kisahkan padanya
riwayat para leluhur kita
yang ternama dan perkasa
Dan biarkan ia nanti
tidur di sampingmu.

Ia pun anakmu.
Sekali waktu nanti
ia akan melahirkan cucu-cucumu.
Mereka akan sehat-sehat dan lucu-lucu.
Dan kepada mereka
ibunya akan bercerita
riwayat yang baik tentang nenek mereka:
bunda-bapak mereka

Ciuman abadi
dari anak lelakimu yang jauh.

Willy.

Serenada Merah Padam


Serenada Merah Padam

 
Sekawan kucing
berpasang-pasangan
mengeong di kegelapan.
Sekawan kucing
mengeong dengan bising
mengeong dengan panas
di kegelapan.
Manisku! manisku!
Sekawan kucing
berpasang-pasang
saling menggosokkan tubuhnya
di kegelapan

Seekor kucing jantan
manyapukan kumisnya yang keras
ke bulu perut betinanya.
Maka yang betina berguling-guling
di atas debu tanah.
Menggeliat dan berguling-guling
tak terang pandang matanya.

Serta dari mulutnya
keluar suara panjang
kerna telah dilemahkan
seluruh urat badannya.
Manisku! Manisku!
Dengarlah bunyi kucing
mengganas di kegelapan.
Seekor kucing jantan
menggeram dengan dalam
di leher betinanya.
Maka
selagi sang betina kecapaian
ia pun menyeringai
di kegelapan.