Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Oktober 2012

Wajah Dunia yang Pertama


Wajah Dunia yang Pertama

 

Ketika bulan pudar
ia bawa pengantinnya
ke atas bukit itu.
Keduanya telanjang.
Tak punya apa-apa.

Pada awal segalanya
alam pun telanjang
kosong, dan tanpa dusta.
Gelap bertatapan dengan sepi.

Dan sepi tenggelam
dalam waktu yang dalam.
Lalu datanglah cahaya,
kehidupan mahluk,
insane dan margasatwa.
Pada awal segalanya,
semua telanjang
kosong dan terbuka

Kedua mempelai yang remaja itu
telah menempuh jalan yang jauh.
Melalui subuh penuh khayalan
dengan langit penuh harapan
dan sungai penuh hiburan
mereka pun memasuki siang bagai tungku
keringat mengucur ke kaki mereka.

Dan kaki mereka di atas bumi karang gersang.
Maka lalu datang malam
yang membawa mimpi
dan ranjang istirah
penuh merjan gemerlapan.
Mereka menengadahkan wajah.
Di langit bintang selaksa.
Bagai jumlah keturunan mereka.
Selaksa dan lagi selaksa.
Takkan tumpas selamanya.

Ketika bulan pudar
ia bawa pengantinnya
ke atas bukit itu
keduanya telanjang
wajah dunia yang pertama.

Nina Bobok bagi Pengantin


Nina Bobok bagi Pengantin


Awan bergoyang, pohonan bergoyang
antara pohonan bergoyang malaikat membayang.
Dari jauh bunyi merdu lonceng loyang.

Sepi syahdu, madu rindu.
Candu rindu, gairah kelabu.
Rebahlah, Sayang, rebahkan wajahmu ke dadaku.

Langit lembayung, pucuk-pucuk daun lembayung
antara daunan lembayung bergantung hari yang ruyung
Dalam hawa bergulung mantra dan tenung.

Mimpi remaja, bulan kenangan.
Dukacita, duka berkilauan.
Rebahlah, Sayang, rebahkan mimpimu ke dadaku.

Bumi berangkat tidur.
Duka berangkat hancur.
Aku tampung kau dalam pelukan tangan rindu

Sepi dan tidur, tidur dan sepi
Sepi tanpa mati, tidur tanpa mati.
Rebahlah, Sayang, rebahkan dukamu ke dadaku

Ranjang Bulan Ranjang Pengantin


Ranjang Bulan Ranjang Pengantin

 

Ranjang bulan, ranjang pengantin
langit biru lazuardi
ditumpu tangan-tangan leluhur
Anjing tanah menggelepar
memekikkan birahi kepayang

Ranjang bulan, ranjang penganti
perahu jung seratus layer
dipangku lautan tertidur.
Gugur bintang satu-satu
mengantuk kena berkhayal

Ranjang bulan, ranjang pengantin
kerajaan mambang dan siluman
diasapi dupa memabukkan.
Terkapar mimpi satu-satu
terbanting di atas batu ujian.

Ranjang bulan, ranjang pengantin
bumi keras kehidupan
diwarnai semangat dan harapan.
Ladang digarap dikerjakan
bibir ditanam disuburkan.

Ranjang bulan, ranjang penganti.
Ranjang porselin.
Ranjang gading
Ranjang Pualam.

Ranjang batu.
Ranjang angin
Dan ranjang aspal jalanan.
Sepasang penganti ditelan kehidupan.
Mata ke depan dan tangan bergandengan.

Kakawin Kawin


Kakawin Kawin

 
Aku datang. Aku datang padamu.
Dengan pakaian pengantin.
Kujemput kau ke rumahmu
dan kubawa ke gereja.

Aku datang. Aku datang padamu.
Kubawa ke langit beledu.
Fajar pertama kaum wanita
kusingkapkan padamu dengan perkasa.

Maka hujan pun turun
karena hujan adalah rahmat
dan rahmat adalah bagi pengantin.
Angin jantan yang deras
menggosoki sekujur badan bumi
menyapu segala nasib yang malang.
Pohon-pohonan membungkuk
bamboo dan mahoni membungkuk
segala membungkuk bagi rahmat
dan rahmat hari ini
adalah bagi penganti.

Aku datang. Aku datang padamu.
Dan hujan membersihkan jalanan
Kuketuk pintu rumahmu
dan rahmat sarat dalam tanganku.
Kau gemetar menungguku
dengan baju pengantin hijau
dan sanggulmu penuh bunga.
Permata-permata yang gemerlapan di tubuhmu
bagai hatimu yang berdebar-debar
gemerlapan
menunggu kedatanganku.

Nyanyian Para Malaikat


Nyanyian Para Malaikat

 

Di pagi penuh rahmat itu
seorang teman surgawi
memukulkan lidah lonceng
yang keras itu
ke dindingnya yang dingin.
Maka kami pun turun
ke bumi yang sedang mandi.
Dinginnnya!
Wahai! Wahai!

Sambil meluncur-luncur
di atas atap licin basah
dari gereja yang tua itu
kami tunggu
kedatangan sepasang pengantin
yang muda remaja
bagai mentari muda yang malu
di pagi dingin itu/
Dinginnya!
Wahai! Wahai!

Koster gereja yang rajin
telah siapkan roti dan anggur
untuk missa yang suci itu
sementara lilin-lilin telah dipasang
dan bunga-bunga bersebaran

Tuhan Allah Yang Esa
yang selalu dipuja
dalam mazmur bani Israel,
akan menyatukan dua remaja
dalam pelukan cintanya.
Ah, ya!
Dua orang pengantin remaja
akan berpelukan
dalam pagi yang dingin.
Dinginnya!
Wahai! Wahai!

Pagi yang dingin itu
adalah pagi yang mesra,
pagi bunga-bunga mawar,
pagi kemenyan dan kayu cendana.
Dalam sakramen telah disatukan:
dua badan satu jiwa
selapik seketiduran.

Malaikat di Gereja St. Josef


Malaikat di Gereja St. Josef


Di Gereja St. Josef
tanggal 31 Maret 1959
di pagi yang basah
sesosok malaikat telah turun.
Sesosok malaikat remaja
dengan rambut keriting
berayun di lidah lonceng
Maka sambil membuat 
bahana indah
dinyanyikan mazmur
yang mengandung sebuah berita
yang bagus.
Dan kakinya yang putih indah
terjuntai.

Undangan


Undangan


Dengan segala hormat
Kami harapkan kedatangan Tuan, Nyonya dan Nona
untuk menghadiri kami dikawinkan….

Bahan roti dalam adonan
tepung dan ragi disatukan.
Pohonan bertunas dan berbuah
benih tersebar dan berkembang biak
di seluruh muka bumi.

Tempat:
Di Gereja St. Josef, Bintaran, Yogyakarta….

Rumah Tuhan yang tua
pangkuan yang aman Bapa Tercinta
Segala kejadian
mesti bermula di suatu tempat.
Pohon yang kuat
berakar di bumi keramat.

Waktu:
Selasa, tanggal 31 Maret 1959
jam 10 pagi, waktu di Jawa….

Hari baru terbuka
menyambung lingkaran waktu
berputar tak bermula
Sejak cahaya yang pertama
bumi dan lading telah diolah
oleh tangan Sang Sabda yang Agung

Dengan segala hormat
kami ucapkan terima kasih
sebelum dan sesudahnya.

Surat kepada Bunda: Tentang Calon Menantunya


Surat kepada Bunda:

Tentang Calon Menantunya


Mamma yang tercinta,
akhirnya kutemukan juga jodohku
seseorang yang bagai kau:
sederhana dalam tingkah dan bicara
serta sangat menyayangiku.

Terpupuslah sudah masa-masa sepiku.
Hendaknya berhenti gemetar rusuh
hatimu yang baik itu
yang selalu mencintaiku.
KErna kapal yang berlayar
telah berlabuh dan ditambatkan.
Dan sepatu yang berat serta nakal
yang dulu bisaa menempuh
jalan-jalan yang mengkhawatirkan
dalam hidup lelaki yang kasar dan sengsara, 
kini telah aku lepaskan
dan berganti dengan sandal rumah
yang tenteram, jinak dan sederhana.

Mamma,
burung dara jantan yang nakal
yang sejak dulu kau piara 
kini terbang dan telah menemu jodohnya.
Ia telah meninggalkan kandang yang kaubiarkan
dan tiada akan pulang
buat selama-lamanya.

Ibuku,
Aku telah menemukan jodohku.
Janganlah kau cemburu.
Hendaknya hatimu yang baik itu mengerti:
pada waktunya, aku mesti kaulepaskan pergi.

Begitu kata alam. Begini kau mengerti:
Bagai dulu bundamu melepas kau
kawin dengan ayahku. Dan bagai
bunda ayahku melepaskannya
untuk mengawinimu.
Tentu sangatlah berat.
Tetapi itu harus, Mamma!
Dan akhirnya tak akan begitu berat
apabila telah dimengerti
apabila sudah disadari.

Hari Sabtu yang akan datang
aku akan membawakannya kepadamu.
Ciumlah kedua pipinya
berilah tanda salib di dahinya
dan panggilah ia dengan keras: Anakku!

Bila malam telah datang
kisahkan padanya
riwayat para leluhur kita
yang ternama dan perkasa
Dan biarkan ia nanti
tidur di sampingmu.

Ia pun anakmu.
Sekali waktu nanti
ia akan melahirkan cucu-cucumu.
Mereka akan sehat-sehat dan lucu-lucu.
Dan kepada mereka
ibunya akan bercerita
riwayat yang baik tentang nenek mereka:
bunda-bapak mereka

Ciuman abadi
dari anak lelakimu yang jauh.

Willy.

Serenada Merah Padam


Serenada Merah Padam

 
Sekawan kucing
berpasang-pasangan
mengeong di kegelapan.
Sekawan kucing
mengeong dengan bising
mengeong dengan panas
di kegelapan.
Manisku! manisku!
Sekawan kucing
berpasang-pasang
saling menggosokkan tubuhnya
di kegelapan

Seekor kucing jantan
manyapukan kumisnya yang keras
ke bulu perut betinanya.
Maka yang betina berguling-guling
di atas debu tanah.
Menggeliat dan berguling-guling
tak terang pandang matanya.

Serta dari mulutnya
keluar suara panjang
kerna telah dilemahkan
seluruh urat badannya.
Manisku! Manisku!
Dengarlah bunyi kucing
mengganas di kegelapan.
Seekor kucing jantan
menggeram dengan dalam
di leher betinanya.
Maka
selagi sang betina kecapaian
ia pun menyeringai
di kegelapan.

Serenada Kelabu


Serenada Kelabu

 

1

Bagai daun yang melayang.
Bagai burung dalam angin.
Bagai ikan dalam pusaran.
Ingin kudengar beritamu!

2

Ketika melewati kali
terbayang gelakmu.
Ketika melewati rumputan
terbayang segala kenangan.
Awan lewat indah sekali.
Angin datang lembut sekali.
Gambar-gambar di rumah penuh arti.
Pintu pun kubuka lebar-lebar.
Ketika aku duduk makan
kuingin benar bersama dirimu.

Jumat, 19 Oktober 2012

Serenada Hitam


Serenada Hitam

 

1

Aku akan masuk ke dalam hutan
Lari ke dalam hutan
Menangis ke dalam hutan.
Kerna mereka telah memisahkan kami:
aku dan Panjiku:
Akan kuurai sanggul rambutku
tergerai
bagai ratap tangis dan dukaku.
Nasib telah menikam diriku dari belakang.
Nasib telah memeras mataku.
Dan menjalar kuman-kuman yang gatal
di kedua susuku.
Wahai, mereka telah mengungkai
sebuah dada yang bidang
dari pelukanku!
Panji adalah pelita gemerlap
bersinar dalam puriku.
Kini betapa gelap puriku
tiada lagi berlampu.
Aku akan masuk ke dalam hutan.
Lari ke dalam hutan
Mengapa mereka rintangi
cinta yang tak’kan terpisahkan?
Mengapa mereka bendungi
derasnya arus air kali?
Wahai, betapa gelap puriku
tiada lagi berlampu.
Aku akan masuk ke dalam hutan.
Lari ke dalam hutan.
Menangis ke dalam hutan.
Akan kutempuh
ujung pisau pengkhianatan.
Akan kutantang
kuburan kedengkian.
Karena puriku tiada lagi berlampu.

2

Kemari; Kemarilah, Manisku!
Tengadahlah memandang mataku
dan kuciumi seluruh wajahmu.
Diamlah, Candra Kirana, kekasihku!
Cinta tak bisa dipisahkan
api tak terpadamkan.
Akan kutantang segala rintangan
tanpa lari ke dalam hutan.
Bangkitlah dari ratap tangismu.
Akan kupeluk di tempat lapang.
Kubimbing tanganmu
di bawah langit dan terang.
Cinta yang tidur dalam kesedihan,
ketika bangkit menemu mentari yang gemilang.
Marilah, Canra Kirana!
Kita rampas kemenangan
dan kita tepiskan kematian.
O, betapa kubenci kehancuran
dan kuyakin hari yang gemilang.
Kemarilah, Candra Kirana!
Lelakimu di sini:
pohon pautan tempat berpegang.
Keluarlah dari hutan!
Di sini kita kawin.
Di sini kita berpelukan.
Di bawah mentari.
Di bawah langit siang.

3

Kami tak dapat dipisahkan:
Candra Kirana dan Panji.
Kami cantik, tampan dan remaja.
Mentari adalah hakin percintaan.
Cinta yang berjalan dalam duka cita
tetap menatap ke muka
dan akan menemu perumahan yang aman.
Menepislah pengkhianatan.

Menepislah kematian.
Kami akan gigih biar karatan.
Dan percaya akan kemenangan
biarpun di atas kuburan.
Tak ada maut bagi cinta.
Tak ada kelayuan
bagi bunga kehidupan.

Serenada Putih

Serenada Putih


Kesepiannya mengurung jerit hatinya.
Pandangnya yang dirahasiakan
terasa juga oleh lelaki itu.
Di jalan orang memetik gitar
cecak di tembok
dan rindu di hatinya:
bagai baying-bayangnya yang gelap.
Ketika terdengar
bunyi lonceng tembok
lelaki itu memandangnya.
Ia pun menunduk.
Tergerai rambutnya
bagai malam.
Gadis yang sangsi pada diri
memendam segala rasa
dalam berpura.
Terkunci mulutnya.
Menunduk matanya.
Semakin berpura
semakin panas ia.
Rindunya murni
bagai permata belum diasah
bagai rahasia belum disingkapkan.
Cecak berbunyi dalam kantuknya
dan gemeterlah sepi
di kamar itu.
Lelaki itu menjamahnya
dan membisikan kata-kata
dengan napas yang melemaskan.
Angin menumbuki kaca jendela.
Sepatu terantuk kaki meja.
Maka:
dalam pelukan gemetar
pertukaran napas ganas
menemu kuncinya.
Lalu:
cium pertamanya
Kemudian:
dikatakanlah segalanya. 

Di Bawah Bulan

Di Bawah Bulan


Ketika sebuah suara
memanggil namanya
ia hentikan langkahnya.
Rumpun pohonan remang-remang
mahkota cahaya di pucuk daunnya.
Ia tak lihat orangnya
tapi suara dikenalnya.
Ketika bulan menjenguknya
tampak pipinya
bagai kelopak angsoka
kerna darah nai
ke muka dan bulu kuduknya.
Terdengar cengkerik berpacaran
pucukpucuk cemara bergeseran.
Ketika sebuah suara
memanggil namanya
ia pun tahu
siapa menunggunya.
Cahaya lembut memabukkan
angin meniup tepi kainnya.
Ketika sebuah tangan kuat
meraba pundaknya
menyerahlah ia.

Serenada Violet


Serenada Violet

 

Lalu terdengarlah suara
di balik semak itu
sedang bulan merah mabuk
dan angin dari selatan.
Lalu terbawa bauan sedap 
bersama desahan lembut
sedang serangga bersiuran
di dalam bayangan gelap.
Tujuh pasang mata peri 
terpejam di pohonan.
Dengan suara-suara lembut aneh
dan bau sedap dari jauhan
datanglah fantasi malam.
Lalu terdengarlah suara 
di balik semak itu
pucuk rumput bergetaran
kali mengalir tanpa sadar.
Sebuah pasangan
telah dikawinkan bulan.

Episode


Episode


Kami duduk berdua
di bangku halaman rumahnya.
Pohon jambu di halaman itu
berbuah dengan lebatnya
dan kami senang memandangnya.
Angin yang lewat
memainkan daun yang berguguran.
Tiba-tiba ia bertanya:
“Mengapa sebuah kancing bajumu
lepas terbuka?”
Aku hanya tertawa.
Lalu ia sematkan dengan mesra
sebuah peniti menutup bajuku.
Sementara itu aku bersihkan
guguran bunga jambu
yang mengotori rambutnya.

Serenada Biru


Serenada Biru

 

1

Alang-alang dan rumputan
bulan mabuk di atasnya.
Alang-alang dan rumputan
angin membawa bau rambutnya.

2

Mega putih
selalu berubah rupa.
Membayangkan rupa
yang datang derita

3

Ketika hujan datang
malamnya sudah tua:
angin sangat garang
dinginnya tak terkira.
Aku bangkit dari tidurku
dan menatap langit kelabu.
Wahai, janganlah angin itu
menyingkap selimut kekasihku!

Serenada Hijau


Serenada Hijau

 

Kupacu kudaku.
Kupacu kudaku menujumu.
Bila bulan
menegurkan salam
dan syahdu malam
bergantung di dahan-dahan.

Menyusuri kali kenangan
yang berkata tentang rindu
dan terdengar keluhan
dari batu yang terendam

Kupacu kudaku.
Kupacu kudaku menujumu.
Dan kubayangkan
sedang kautunggu daku
sambil kau jalin
rambutmu yang panjang.

Surat Cinta


Surat Cinta


Kutulis surat ini
kala hujan gerimis
bagai bunyi tambur mainan
anak-anak peri dunia yang gaib.
Dan angin mendesah
mengeluh dan mendesah
Wahai, Dik Narti,
aku cinta kepadamu!

Kutulis surat ini
kala langit menangis
dan dua ekor belibis
bercintaan dalam kolam
bagai dua anak nakal
jenaka dan manis
mengibaskan ekor
serta menggetarkan bulu-bulunya.
Wahai, Dik Narti,
kupinang kau menjadi istriku!

Kaki-kaki hujan yang runcing
menyentuhkan ujungnya di bumi.
Kaki-kaki cinta yang tegas
bagai logam berat gemerlapan
menempuh ke muka
dan tak’kan kunjung diundurkan.

Selusin malaikat 
telah turun
di kala hujan gerimis.
Di muka kaca jendela
mereka berkaca dan mencuci rambutnya
untuk ke pesta.
Wahai, Dik Narti,
dengan pakaian pengantin yang anggun
bung-bunga serta keris keramat
aku ingin membimbingmu ke altar
untuk dikawinkan.

Aku melamarmu.
Kau tahu dari dulu:
 “Empat Kumpulan Sajak” W. S. Rendra (1961)  8
tiada lebih buruk
dan tiada lebih baik
daripada yang lain….
penyair dari kehidupan sehari-hari,
orang yang bermula dari kata
kata yang bermula dari
kehidupan, pikir dan rasa.

Semangat kehidupan yang kuat
bagai berjuta-juta jarum alit
menusuki kulit langit:
kantong rejeki dan restu wingit.
Lalu tumpahlah gerimis.
Angin dan cinta 
mendesah dalam gerimis.
Semangat cintaku yang kuat 
bagai seribu tangan gaib
menyebarkan seribu jarring
menyergap hatimu
yang selalu tersenyum padaku.

Engkau adalah putri duyung
tawananku.
Putri duyung dengan suara merdu lembut
bagai angin laut,
mendesahlah bagiku!
Angin mendesah
selalu mendesah
dengan ratapnya yang merdu.
Engkau adalah putri duyung
tergolek lemas
mengejap-ngejapkan matanya yang indah
dalam jaringku.
Wahai, Putri Duyung,
aku menjaringmu
aku melamarmu

Kutulis surat ini
kala hujan gerimis 
karena langit
gadis manja dan manis
menangis minta mainan.
Dua anak lelaki nakal bersenda gurau  dalam selokan
dan langit iri melihatnya.
Wahai, Dik Narti,
kuingin dikau
menjadi ibu anak-anakku!

Senin, 06 Februari 2012

Korupsi dalam Perspektif Budaya

Korupsi dalam Perspektif Budaya


Setidaknya tiga berita tentang korupsi yang dimuat Kompas membuat kita risau, yaitu ”Kepercayaan Publik Dicederai”; Tajuk Rencana, ”Percakapan yang Menyentak”; dan ”Yudhoyono: Upaya 5 Presiden Berhenti di Tengah Jalan”.
Dua artikel pertama mempersoalkan percakapan telepon Artalyta Suryani dengan dua jaksa agung muda yang mengindikasikan ada ”jual-beli” keadilan di lingkungan penegak hukum Indonesia. Sementara artikel ketiga memuat pernyataan Presiden Yudhoyono tentang upaya pemberantasan korupsi.
Ketiga artikel itu mengimplikasikan rumitnya jaringan korupsi di Indonesia sehingga membingungkan dan susah diberantas.
Pertanyaan yang diajukan ”Tajuk Rencana”, ”Apa yang sedang terjadi di negeri ini?”, merupakan pertanyaan retoris karena sebenarnya sudah diketahui jawabannya dan tidak merasa heran dengan kejadian itu.

Pertanyaan itu baru benar-benar merupakan pertanyaan jika dikaitkan dengan artikel ketiga. Mungkinkah presiden keenam Indonesia mampu menghadapi kerumitan jaringan korupsi dan mafia peradilan yang menggagalkan lima presiden sebelumnya? Jawabannya bisa positif atau negatif. Namun, bila upaya-upaya pemberantasan korupsi di Indonesia tidak menyentuh akar persoalan, kemungkinan besar usaha itu akan gagal. Lalu, di mana akar persoalannya?
Artikel ini mencoba menempatkan akar masalah pada kebudayaan. Percobaan ini sudah lama dilakukan, baik secara serius maupun sambil lalu. Melalui buku, Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan, Koentjaraningrat melihat korupsi sebagai akibat sikap mental masyarakat Indonesia yang suka ”menerabas”, sikap mental yang terkait orientasi hidup masa kini.
Selain itu, berulang kali media memuat pernyataan berbagai pihak, termasuk pejabat, tentang ”budaya korupsi”, ”korupsi yang sudah membudaya”, dan sebagainya. Sayang, ungkapan-ungkapan itu tidak disertai pengertian yang jelas. Budaya korupsi hanya bisa dirasakan semua orang, tetapi tidak pernah dapat dirumuskan. Akibatnya, ungkapan itu tidak dapat dijabarkan menjadi strategi dan program pemberantasan korupsi.
Syukuran
Dalam artikel ini, budaya korupsi dipahami sebagai sebuah sistem dan proses yang melembaga, yang memungkinkan bahkan mendorong terbentuk dan terjadinya sikap dan perilaku korupsi. Sebagai sistem budaya, korupsi mengandung berbagai kekuatan material ataupun ideologis yang saling berhubungan satu sama lain untuk membentuk dan melahirkan sikap dan perilaku korupsi.
Sistem budaya korupsi itu menjadi bagian integral dari sistem sosial dan budaya secara keseluruhan dengan segala kekuatan material maupun ideologisnya. Sebagai proses, budaya korupsi yang membentuk dan mendorong sikap dan perilaku korupsi itu terus berlangsung dalam kehidupan sehari-hari, baik melalui berbagai aktivitas diskursif, fisik, maupun simbolik.
Sebagai contoh dapat dilihat sebuah institusi sosial yang amat kuat dan terus bekerja dalam praktik kehidupan sehari-hari, yaitu institusi yang disebut ”syukuran” beserta berbagai konsep dan praktik yang menyertainya. Syukuran adalah sebuah ritual yang sering dilakukan setiap saat seseorang merasa mendapat rezeki, keberuntungan, atau keberhasilan dalam mencapai apa yang diinginkan. Memang, syukuran bersifat sukarela, tetapi selalu ada tekanan dari masyarakat, saudara, tetangga, teman sejawat, atau siapa pun yang sering memaksa seseorang untuk melakukannya.
Sangsi sosial yang biasa diterima oleh orang yang tidak melakukan ritual itu, antara lain, adalah tuduhan ia pelit, tidak bersyukur, dan sebagainya.
Namun, institusi syukuran ini tidak terbatas semacam upacara syukuran itu saja. Institusi ini juga bekerja dalam aktivitas dan interaksi sosial dan simbolik sehari-hari. Seseorang yang mendapat rezeki, keberuntungan, dan sejenisnya biasanya mengucapkan berbagai ungkapan yang menyatakan rasa bersyukurnya.
Terkait institusi-institusi sosial lainnya, institusi syukuran terutama terkait agama dengan segala aktivitas material dan simboliknya.
Bagi orang Indonesia, melakukan syukuran dan mengucap syukur dianggap sebagai kebaikan, sesuatu yang seharusnya dilakukan. Namun, justru karena anggapan demikian, masyarakat Indonesia tidak menyadari kemungkinan efek negatifnya, terutama terkait masalah korupsi.
Korupsi yang dianggap jahat dan musuh semua umat manusia bersembunyi di sebuah institusi sosial yang justru dianggap amat baik dan mulia. Begitu pandainya bersembunyi, begitu amannya tempat persembunyiannya, sehingga tidak seorang pun berani menyentuhnya. Hampir seperti maling yang bersembunyi di rumah atau kantor polisi.
Institusi syukuran pada dasarnya memotong kontinuitas antara kerja dan hasil kerja. Kenyataan ini mengimplikasikan dua hal. Pertama, orang dapat dengan senang hati menerima rezeki tanpa bekerja, antara lain dengan memberi judgment ”sudah rezekinya” dan dengan ikhlas tidak mendapat imbalan meski sudah bekerja, antara lain berupa judgment ”belum rezekinya”.
Kedua, korupsi dapat dimasukkan ke dalam kecenderungan pertama: menerima rezeki tanpa bekerja, mendapat imbalan yang bukan haknya. Semua itu mendapat legitimasi cultural dari institusi sosial bernama syukuran.
Perlu identifikasi
Memang, masih banyak kekuatan material maupun ideologis, proses sosial yang berlangsung secara intensif dan ekstensif, yang memengaruhi dan memberi legitimasi pada korupsi.
Budaya warisan kolonial yang oleh Clifford Geertz disebut sharing poverty mempunyai kemungkinan demikian. Begitu juga budaya lisan yang menempatkan subyek lebih penting daripada obyek, budaya lisan yang membuat apa yang disebut negara- bangsa, kebangsaan, dengan segala institusinya belum berhasil menjadi imagined community dalam pengertian Ben Anderson.
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk memberi kesimpulan final tentang budaya korupsi. Apa yang ingin disampaikan hanya semacam isyarat, masalah yang disebut budaya korupsi perlu identifikasi dan kajian serius jika kita ingin menemukan akar persoalan dari rumitnya masalah korupsi di Indonesia sebagaimana dinyatakan tiga artikel Kompas itu.
Faruk HT Direktur Pusat Studi Kebudayaan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Rabu, 25 Juni 2008 | 01:11 WIB
Kompas

Jumat, 03 Februari 2012

SEJARAH MASYARAKAT INDONESIA, INTEGRASI MASYARAKAT INDONESIA, dan DIFERENSIASI KELAS


SEJARAH MASYARAKAT INDONESIA, INTEGRASI MASYARAKAT INDONESIA, dan DIFERENSIASI KELAS


Di Indonesia dalam tahun 800-1000 M ( zaman sriwijaya ) kita kenal sebagai zaman pembangunan candi Borobudur, Prambanan, Mendut, dan sebagainya. Kegiatan yang dikerjakan oleh penduduk sekitar candi itu dipimpin oleh seorang ahli dari jawa yang belajar di India atau pun oleh seorang ahli yang datang dari India. Pada tahun 1000-1500 merupakan zaman kerajaan Majapahit dan datangnya agama Islam. Sisa agama Hindu dan Budha menyingkir ke daerah pedalaman (tengger, Bali) dan sekalipun orang di jawa telah mulai memeluk Islam, dalam menjalankan ibadah mereka masih banyak dipengaruhi oleh kepercayaan Hindu-Budha.
Sedangkan sekitar 1500-1900 M di Indonesia dikenal sebagai akhir zaman kerajaan bumiputera yang berkuasa, dan kulit putih mulai berdatangan. Mereka diterima sebagai tamu yang akhirnya menanam kekuasaan penjajahannya untuk menguasai perdagangan dengan keuntungan yang lebih besar. Raja-raja mulai ditaklukan dan mereka membantu penjajahan, disanjung dan dibantu yang akhirnya mereka pun ditaklukan di bawah kekuasaan penjajah.
Hanya pada akhir abad ke-20 ini, dalam tahun-tahun 1900-an Belanda mulai berfikir untuk menyekolahkan anak-anak pribumi untuk belajar membaca, menulis, dan berhitung. Namun kegiatan belajar ini hanya dapat dirasakan oleh sebagian kecil masyarakat Indonesia. Dan sayangnya kaum intelektual memakai hasil pendidikan sekolahnya untuk menjadi pegawai negeri pemerintah colonial dengan mendapat imbalan dan kedudukan yang memuaskan untuk hidup di zaman itu. Hanya beberapa orang saja yang mempergunakan pengetahuannya untuk menjadi pemimpin bangsa, untuk merebut kemerdekaan dan mengusir penjajah. Boleh dikatakan tak seorang pun terjun ke dalam usaha untuk memajukan ilmu alam dan pasti dan penyelidikan-penyelidikan yang menuju penemuan-penemuan baru. Apalagi karena pemimpin teknik perusahaan besar kebanyakan berada di tangan bangsa Belanda dan bumiputera yang memang kurang pendidikan teknik dan keahlian, hanya menduduki tingkat bawahan sebagai karyawan kantor biasa.


Integrasi Masyarakat Indonesia


Sebagaimana telah kita ketahui bahwa masyarakat Indonesia terdiri dari bermacam-macam kelas sosial, budaya, agama, bahasa, kesenian, adat-istiadat, dan lain sebagainya. Pluralitas masyarakat Indonesia tersebut sangat berpotensi dalam menimbulkan konflik di antara masyarakat Indonesia. Maka dari itu, integrasi sangat dibutuhkan untuk menjaga keutuhan bangsa Indonesia. Integrasi merupakan suatu proses penyesuaian di antara unsure-unsur yang saling berbeda dalam kehidupan sosial sehingga menghasilkan pola kehidupan yang serasi fungsinya bagi masyarakat.
Menurut pendekatan fungsionalisme struktural, factor terpenting yang memliki daya mengintegrasikan suatu system sosial adalah konsensus di antara para anggota masyarakat mengenai nilai-nilai kemasyarakatan tertentu. Di dalam setiap masyarakat, menurut pandangan fungsionalisme structural , selalu terdapat tujuan-tujuan dan prinsip-prinsip dasar tertentu terhadap mana sebagian besar anggota masyarakat menganggap serta menerimanya sebagai sesuatu yang benar.
Berbeda dengan pendekatan konflik, pendekatan ini menganggap bahwa setiap masyarakat terintegrasi atas penguasaan atau dominasi oleh sejumlah orang atas sejumlah orang-orang yang lain.
Integrasi juga dapat dicapai ketika berbagai anggota masyarakat sekaligus menjadi anggota dari berbagai kesatuan sosial. Karena ketika konflik terjadi antara suatu kesatuan sosial dengan kesatuan-kesatuan sosial yang lain maka akan segera dinetralisir oleh adanya loyalitas ganda dari para anggota masyarakat terhadap berbagai kesatuan sosial. Unsur yang terpenting untuk mencapai integrasi adalah sikap saling menghargai dan menghormati dari masyarakat Indonesia itu sendiri. Jika sikap itu telah tertanam pada diri masyarakat Indonesia, maka integrasi tidak akan sulit untuk dicapai.
Faktor-faktor yang mendorong integrasi masyarakat Indonesia antara lain:
 Adanya pengakuan Bhineka Tunggal Ika
 Adanya persamaan dalam heterogenitas
 Rasa saling memiliki dan saling membutuhkan
 Adanya consensus akan nilai dan norma
 Adanya norma atau aturan yang konsisten
 Adanya sosialisasi
 Memahami persamaan bahasa persatuan kita.


Diferensiasi Kelas

Diferensiasi kelas merupakan proses pengelompokan masyarakat ke dalam bagian-bagian yang bersifat tidak bertingkat atau horizontal. Misalnya berdasarkan suku, ras, agama, adat istiadat dan lain sebagainya. Sebagai contoh dalam hal suku kita mengenal berbagai macam suku seperti suku minangkabau, batak, minahasa, dan masih banyak lagi. Sedangkan dalam bidang agama, kita mengenal adanya agama Islam, Hindu, Budha, Kristen dan Katholik. Meskipun terjadi pengelompokan, namun dalam pengelompokan tersebut tidak terdapat kelompok atau bagian yang dianggap lebih baik, semuanya memiliki kedudukan yang sama. Diferensiasi juga berpotensi dalam menimbulkan konflik, jika perbedaan tersebut tidak diikuti oleh sikap saling menghormati dan menghargai.