Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Oktober 2012

Cintaku Jauh di Komodo


Cintaku Jauh di Komodo

Cerpen Seno Gumira Aji Darma


HANYA laut. Hanya kekosongan. Dunia hanyalah laut dan langit melingkar, membentuk garis melingkar yang tiada pernah berubah jaraknya, meski perahuku melaju menembus angin yang bergaram. Bibirku terasa asin dan rambutku menyerap garam, tapi kutahu cintaku belum berkarat bila tiba di pulau itu. Bagaimana cinta akan berkarat hanya karena sebuah jarak, dari labuan Bajo ke Komodo, jika cinta ini belum juga berjarak setelah mengarungi berabad-abad jarak, dari suatu masa ketika cinta pertama kali ada? Lagi pula bagaimana cinta akan berkarat karena angin yang bergaram jika cinta memang bukan besi? Aku dan kekasihku diciptakan dari sepasang bayang-bayang di tembok yang tubuhnya sudah mati, dan semenjak saat itu kami menjadi semacam takdir ketika tiada sesuatu pun di dunia ini yang tidak bisa memutuskan hubungan cinta kami. Barangkali itulah yang disebut dengan cinta abadi.
Aku mengatakan semacam takdir, karena kami memang tidak terpisahkan, tapi aku hanya berani mengatakan hanya semacam takdir, dan bukan takdir itu sendiri, karena sesungguhnyalah aku tidak akan bisa tahu apakah benar cinta kami yang barangkali abadi itu adalah takdir. Kami seperti tiba-tiba saja ada dan saling mencintai sepenuh hati, tapi sunguh mati memang hanya seperti dan sekali lagi hanya seperti, karena sesungguhnyalah cinta kami yang barangkali abadi itu adalah sesuatu yang diperjuangkan. Cinta yang abadi kukira bukanlah sesuatu yang ditakdirkan, cinta yang abadi adalah sesuatu yang diperjuangkan terus-menerus sehingga cinta itu tetap ada, tetap bertahan, tetap membara, tetap penuh pesona, tetap menggelisahkan, tetap misterius, dan tetap terus-menerus menimbulkan tanda tanya; cintakah kau padaku, cintakah kau padaku?[1]
Setiap kali kami mati dan dilahirkan kembali, kami selalu bisa saling mengenali dan mengusahakan segalanya untuk menyatu kembali. Kami memang diciptakan dari sepasang bayang-bayang, dan bayang-bayang bisa berkelebat menembus segala tabir, namun kami tidak pernah lahir kembali sebagai sepasang bayang-bayang yang bisa berkelebat seenak udelnya. Kami sering dilahirkan kembali sebagai manusia, dan sebagai manusia kami tidak bisa berkelbat seenak udel kami, begitu pula bayang-bayang kami yang selalu mengikuti, menempel seperti ketan, lengket bagai benalu, barangkali menunggu kami mati dan menjadi pasangan baru. Apabila kami berbeda kulit, dan kemudian berbeda kelas sosial, lantas berbeda agama pula—betapa berat usaha kami menyatukan diri. Walaupun kami terbukti saling mencintai, terlalu banyak manusia merasa berhak untuk tidak setuju dan melarang hubungan kami. Apalagi jika kami lahir kembali masing-masing sebagai pasangan resmi orang lain. Nah, tiada seorang pun yang akan mengizinkan dirinya untuk memahami, bahkan kami pun bisa bingung sendiri.
Demikianlah cinta kami selalu di uji, benarkah begitu kuat usaha kami untuk menyatu kembali, ataukah cinta kami ini hanya begitu-begitu saja yang terlalu mudah menyerah karena berbagai macam halangan yang sebenarnya bisa saja diatasi. Memang begitu banyak godaan kepada kesetiaan cinta kami; bisa berwujud harta kekayaan, bisa berupa kursi kekuasaan, tapi yang paling berbahaya adalah pesona cinta itu sendiri. Hmm. Cinta diuji oleh cinta. Seringkali ini sangat membingungkan—tetapi selalu bisa kami atasi. Cinta yang sejati, kukira, hanyalah menjadi sejati jika tahan uji terhadap cinta yang sama hebohnya, yakni cinta yang dasyat itu, dengan segenap petir dan halilintarnya yang tanpa kecuali menggetarkan dan medebarkan hati. Kesetiaan kami masing-masing telah membuat kami selalu bertemu kembali, begitulah, meski terkadang penuh luka-luka cinta di sana-sini karena ketergodaan yang terlalu menarik untuk tidak dilayani.
Apabila kami bertemu dari kelahhiran satu ke kelahiran lain, kami akan saling mengenali, meski perbedaan duniawi yang membungkus kami bisa mengakibatkan masalah berarti. Itulah misalnya yang terjadi misalnya ketika aku lahir sebagai pendeta dan kekasihku lahir sebagai putri raja. Lain kali aku lahir kembali sebagai perempuan dan kekasihku lahir kembali tetap sebagai perempuan. Suatu kali bahkan ketika lahir kembali sebagai bayi, kekasihku sudah lahir berpuluh tahun sebelumnya dan hampir mati. Tetapi tidakkah cinta itu tiada memandang wujud, dan tiada pula memandang usia? Jika cinta memang mempersatukan jiwa, maka kesenjangan tubuh macam apakah yang bisa menghalanginya? Justru itulah masalahnya sekarang: apakah aku, sebagai manusia biasa, masih bisa mencintai kekasihku, jika kekasihku itu telah menjadi komodo?[2]
Hanya laut. Hanya kekosongan. Laut dan langit bagai bertaut, tapi sebetulnya mereka tidak bersentuhan sama sekali. apakah aku bisa bertemu kekasihku kali ini? Tanda-tanda alam memberi isyarat kepadku, kekasihku telah dilahirkan kembali dalam wujud seekor komodo,yang sekarang berada di Pulau Komodo. Sebagai seekor komodo, kekasihku menimbulkan maslah besar, karena telah memakan seorang anak gadis yang sedang mandi di sungai. Perburuan liar telah mengurangi jumlah kijang yang biasa dimakan komodo, sehingga kekasihku dengan kelaparan yang amat sangat telah menerkam dan menelan seorang anak gadis berusia 12 tahun. Karena undang-undang melindungi komodo, maka kekasihku tidak dibunuh, melainkan dibuang ke suatu wilayah di Pulau Flores yang juga dihuni komodo. Namun, di tempat yang baru itu, kekasihku dianggap sebagai komodo asing yang dimusuhi oleh komodo-komodo lain. Akibatnya, kekasihku berenang dan  menyeberangi laut untuk kembali ke Pulau Komodo—dan kini aku datang ke pulau itu untuk mencarinya.[3]
Dalam sejarah percintaan kami dari abad ke abad, belum pernah kami lahir kembali dengan berbeda spesies seperti ini. Karena kami selalu berperilaku baik, kami selalu lahir kembali sebagai manusia—kesalahan apakah yang telah dilakukan kekasihku, dan aku tidak mengetahuinya, sehingga lahir kembali sebagai komodo? Kalaulah aku masih mempunyai kepekaan untuk mengenalinya, bagaimanakah caranya untuk menmgenaliku—dan apa yang akan kami lakukan? Aku tidak mungkin mengawini dan membawanya sebagai seekor komodo ke dalam apartemenku di Jakarta. Pasti Supermie tidak akan pula mengenyangkannya. Atas nama cinta, apakah yang masih bisa kulakukan untukmu, kekasihku?
***
KETIKA akhirnya kami berjumpa di sebuah kubangan pada sungai kering berbatu-batu, hatiku terasa kosong. Setelah menjelajahi pulau itu selama dua hari dan bertemu dengan sejumlah komodo, akhirnya aku bertemu dengan seekor komodo yang kuyakini sebagai kekasihku. Rupanya kekasihku menjadi seekor komodo jantan.
Karena aku turun ke kampung komodo,[4] dan bukan di Loh Liang, tempat para petugas Taman Nasional biasa memandu wisatawan, aku menjelajahi pualau itu siang-malam tanapa pengawal. Bersenjatakan tongkat bercabang, aku berhasil menyelamatkan diri dari serangan sejumlah komodo, sampai kutemukan komodo jantan yang pernah memakan anak gadis itu.[5]
Kami bertemu pada suatu siang yang panas dan aku sedang mendaki ketika kulihat dia merayap ke arahku di bawah kerimbunan semak-semak. Apakah yang masih kukenal dari kekasihku yang cantik jelita pada komodo jantan ini? Tadinya masih kuharapkan pandangan mata yang penuh dengan cinta, tapi hanya kulihat sebuah pandangan mata yang kosong. Sudah jelas ia tampak kelaparan, dan kukira ia tidak mengenaliku lagi—apakah masih sahih jika aku berusaha tetap mempertahankan cinta? Dalam keadaan seperti ini, aku menjadi ragu, apakah cinta yang abadi itu sebenarnya memang ada, ataukah hanya seolah-olah ada dan dipercaya begitu rupa sehingga mengelabuhi para peminatnya? Mungkin cinta memang mengenal wujud—meskipun komodo jantan itu memang penjelmaan kekasihku, dan aku sangat mencintainya, aku bertanya-tanya apakah aku bisa mencintainya seperti mencintai kekasihku…
Aku terpeleset dari tebing, dan meluncur masuk ke kubangan, tepat dihadapan mulutnya yang menganga. Semuanya sudah terlambat, kaki kiriku sudah masuk ke dalam mulutnya, langsung patah beberapa bagian. Aku tidak sempat memanfaatkan tongkat bercabang itu—apakah aku akan lebih bahagia jika menyerahkan jiwa sebagai pengorbanan cinta? Kuras seluruh tubuhku tersedot masuk ke dalam tubuh komodo itu sekarang. Di dalam tubuh itu hanya kurasakan kegelapan—dan perasaan menyatu. Kalau aku tidak keliru.

Labuan Bajo, Juli 2003

Kompas, Minggu_17/08/2003




[1]* Judul ini mengacu kepada sajak Chairil Anwar, Cintaku Jauh di Pulau (1946).
[1] Ingatan terbalik atas sajak afterthought: cintakah kau kepadanya/cintakah kau kepadanya dalam Toety Heraty, Nostalgi=Transendensi (1995)., hal75.
[2] Reptil bernama resmi Varanus Komodoensis yang panjangnya bisa mencapai tiga meter dan berat 150 kilogram, dan selalu disebut hanya terdapat di Pulau Komodo, dengan jumlah sekitar 1650 ekor (1994). Ternyata terdapat pula di Pulau Rinca, sebanyak 1000 ekor, dan suatu wilayah di Flores yang jumlahnya belum sepat dihitung.
Sisa makhluk perbakala itu baru ditemukan secara resmi pada tahun 1911 oleh tentara Hindia Belandan dan diberi nama pada tahun 1912 oleh PA Ouwens, kurator musiam zoologi Bogor.
(Baca Linda Hoffman; Introduction dan Enter the Dragon: Visiting the Island of Dinosaurs dalam Kal Muller, East of Bali: from Lombok to Timor (1997), hal 111-114.  
[3] Bagian kisah ini mengacu kepada suatu kejadian, yang dialami seorang bocah lelaki pada tahun 1987, namun terjadinya di Pulau Rinca, yang bersebelahan dengan Pulau Komodo, dalam Muller, Ibid., hal: 111-2
[4] Kampung Komodo, terdiri atas 400 KK (2003), satu-satunya kampung di pulau itu, mempunyai kebudayaan dan bahasa sendiri. Mereka menyebut komodo sebagai ora. Lebih jauh baca JAJ Verheijen, Pulau Komodo: Tanah, Rakyat dan Bahasanya (1987), terjemahan A Ikram
[5] Korban terakhir adalah Baron Rudolf Van Biberegg, wisatawan asal Swiss berusia 84 tahun, pada tahun 1972, yang lenyap di Poreng, Pulau Komodo—yang tertinggal hanyalag tripod-nya, kaki tiga untuk kamera. Muller, op cit., hal: 112.

Sabtu, 25 Februari 2012

Di Dusun Lembah Krakatau


Di Dusun Lembah Krakatau

Cerpen St. Fatimah*)

Banjo berjalan gontai pelan-pelan di belakang emaknya. Burung-burung gagak hitam terbang rendah, berkoak-koak memekak. Di atas, langit yang damai tak menjanjikan sama sekali rasa aman.

Lewat baris-baris pohon jati di sepanjang jalan, si emak dan anak laki-lakinya itu dapat melihat lembah Krakatau yang melandai berombak-ombak. Tak mereka jumpai lagi sosok-sosok manusia yang berarak tak henti-henti mendaki seperti semut, tak peduli disambut oleh lingkaran awan tebal dan gumpalan langit tak berawan. Sebuah kabar burung tentang anak siluman telah memutus urat keberanian mereka.
"Banjo!"
Emaknya tiba-tiba berhenti.

Mendengar namanya dipanggil, anak itu terkejut. Bukan karena takut, melainkan karena firasat yang semakin dekat. Kenyataan yang akan datang tentang firasat itu bisa terasa sangat sakit, bahkan bisa juga mematikan.
"Kau lelah, Jo? Sepertinya Emak terlalu memaksamu berjalan hingga sejauh ini. Maafkan Emak, Jo."

Sesudah mengusap liur yang meleleh di sudut bibirnya, si emak menggandeng tangan Banjo, dan ucapnya lagi, "Ayo kita pergi ke pohon besar di sana itu. Kita buka bekal makanan kita. Kau lapar kan?"
Banjo tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mengangguk saja, lalu mengekor patuh di belakang emaknya.

Tidak jauh dari situ tampak pohon besar yang rimbun daunnya. Di situ emak membuka buntalan kain sarung, sementara anak laki-lakinya selonjor, melenturkan otot-otot kakinya, dengan bersandar pada batang pohon besar itu.
"Banjo, duduklah dekat Emak sini."
Banjo merangkak menuju emaknya.

Emak mengeluarkan dua lembar daun jati tua. Ia melipat satu lembar daun jati itu sedemikian rupa di atas telapak tangannya, hingga membentuk semacam mangkok makan. Diisinya mangkok daun jati itu dengan nasi, gorengan ikan asin, dan sayuran rebus. "Kau ingin Emak menyuapimu?"
Banjo mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda setuju.

Emak menyeringai senang, memperlihatkan sederetan gigi yang warna putihnya tak sempurna. Ia senang melihat anak laki-lakinya makan dengan lahap. Ia seketika lupa bagaimana anak-anak penduduk dusun sini melempari Banjo dengan tomat busuk dan batu kerikil. Sementara orang-orang dewasa melihat kejadian itu tanpa bereaksi apa pun selain tertawa. Apa yang lucu dari melihat seorang bocah laki-laki yang pasrah begitu saja ditawur bocah-bocah sebayanya, dilempari batu hingga mengakibatkan luka memar dan berdarah di sekujur tubuhnya? Apa semua lelucon tak pernah berperasaan?

Barangkali penduduk dusun sini meyakininya demikian. Mereka terpingkal tanpa rasa kasihan. Beberapa di antara mereka mencorongkan tangan di mulut dan meneriaki anak lelaki malangnya dengan kata-kata kasar. Mereka mengerumuninya dan menggiring ke luar dusun. Emak sudah hapal dengan perlakuan penduduk dusun ini; tanpa perasaan mendendam ia berbisik pada diri sendiri, "Barangkali mereka capek kerja ladang seharian, lalu mereka mencoba mencari hiburan."

Emak dengan sabar dan telaten membesarkan hati putra semata wayangnya itu. Tak ada yang benar-benar membuat hatinya meluap kegembiraannya, selain ketika bisa melihat wajah Banjo tampak tersenyum sewaktu tidur. Dalam pikirannya, senyum Banjo sewaktu tidur itu berarti segala-galanya. Leluhurnya pernah bilang, jika di pertengahan tidurnya seorang anak mengigau atau menjerit-jerit, itu artinya ada bayangan hitam yang menempel pada si anak. Dan emak tak mau bayangan hitam itu satu kali saja menempeli putra tunggalnya.
Banjo sudah lelap di pangkuan emaknya. Sementara emak mulai tak kuasa menghardik rasa kantuknya.

Dusun yang bermandikan cahaya kekuningan matahari menghilang di kejauhan, berangsur-angsur digelapkan oleh kabut petang musim penghujan. Tapi musim penghujan bukan halangan besar bagi penduduk dusun untuk mencari nafkah. Karena mereka percaya Hyang Air dan Hyang Angin telah mereka buat kenyang dan senang hati dengan upacara, tumbal, dan sesaji. Kepercayaan itu juga yang membuat emak dan Banjo terusir dari dusun itu.

Semuanya seperti berputar kembali. Kaki langit menggenang dalam kubangan kuning kemerahan. Jangkrik-jangkrik mulai menghela komposisi kerikannya. Satu-dua burung hantu menyembulkan kepalanya dari lubang sarangnya, membawa badannya yang buntal ke tengger pohon yang paling tinggi --hampir menyundul dagu bulan. Dan hewan-hewan malam lainnya pun serentak bergerilya ke sebalik lubang-lubang amat gelap.

Emak pulang larut malam dari rumah Wak Nardi dengan berbekal obor bambu di genggaman tangannya. Malam itu tak seperti malam-malam lalu. Amat gelap, amat dingin, amat mencekam. Kesiur angin membuat nyala obornya bergetar bergoyang-goyang selalu. Kedua belah matanya beberapa kali merem-melek, menyiasati lesatan uap kabut yang menggores jarak pandangannya.

Tapi, tiba-tiba kabut itu dikejapkan cahaya kilat --dan sungguh mengejutkan. Begitu ganjil kedatangan kilat itu. Kini yang dilihatnya bukan lagi kepulan kabut yang mengendap-endap lambat menyergap, tapi semacam gumpalan asap tebal yang mirip kepala raksasa yang bertonjol-tonjol menyeramkan.

Sekejap, kilat menyabet terang membelah langit. Di ujung jalan berbatu di sebelah barat, dari tengah-tengah sepasang pohon asem yang tegak kekar di kanan-kiri badan jalan muncullah bayangan sosok tubuh yang setindak demi setindak menuju ke arahnya, tapi hilang-hilang nyata dalam sabetan-sabetan cahaya kilat. Betapapun emak berusaha dengan menajamkan sorot mata kuyunya yang bernaung dalam kecekungan lubang matanya, sia-sia saja ia mengenali wajah tubuh itu. Tapi jelas, dari gerak-gerik sosok tubuh asing yang sedang menuju ke arahnya itu adalah sosok perempuan.

Hatinya bergetar, berdegup-degup tak karuan. Terus terang emak sedang ketakutan. Dinantikannya sampai sosok itu melontarkan setidaknya satu patah kata lebih dulu. Sungguh pun diketahuinya kecil kemungkinannya sosok itu adalah orang dusun yang dikenalnya, tapi entah mengapa ia masih mau berdiri memaku menunggu sosok tanpa wajah itu menegurnya.

Hingga….akhirnya sosok berwajah lembut nan cerlang itu tersenyum padanya, bersamaan muncul lingkaran cahaya terang memusar lalu memancar --begitu seterusnya-- di belakangnya. Cantik, sungguh cantik. Dua belah mata yang berbinar tegas, meninggalkan sorot yang menggores tajam setiap memandang. Bibirnya menggumpal padat berisi dan basah mengkilap. Kulit wajahnya halus sempurna dan seputih kapas. Wajah itu sungguh bercahaya menggetarkan dada dan menyejukkan hatinya, sampai-sampai mulut emak menganga. Beberapa kali ia pun menghela napas, menggeleng-gelengkan kepalanya, sementara balas tersenyum balik. Ia berubah seperti anak kecil yang tengah mendapati sebatang kembang gula yang tiba-tiba tergenggam di kedua tangannya.

Bau harum menusuk hidung emak. Bau harum yang mengepul dari kibasan jubah panjang sosok makhluk cantik itu. Ya, makhluk cantik, hanya sebutan itu yang terlintas di hatinya. Ia yakin sosok di hadapannya itu bukan satu dari bangsa manusia seperti dirinya. Malaikatkah? Atau bangsa jin? Ia belum pernah berjumpa dua bangsa ciptaan Hyang itu sepanjang sisa-sisa rambut ubannya yang memutih kapas. Jadi ia tak bisa mengatakan dengan pasti, apalagi teka-teki, dari bangsa yang mana sosok makhluk di hadapannya itu. Ia hanya bisa mengatakan makhluk itu cantik, maka itu makhluk cantik.

Lama. Malam tambah hening, tambah senyap, tambah penuh tanya. Tak kelihatan lagi kejapan-kejapan kilat yang berseliweran membelah langit di atas. Sekonyong-konyong meluncur dari sela bibir makhluk cantik itu, tapi bibir padat berisi itu tiada bergerak, terdengar begitu saja, kata-katanya sangat jelas dan berbunyi, "Susui jabang bayiku hingga datang malam purnama kedua puluh tujuh…."

Serasa emak dikepung anak buah malaikat maut, linglung tak tahu apa yang mesti diperbuat. Jantungnya bunyi berdegup-degup, kedua belah matanya terus berkedip-kedip. Jari-jarinya gemetar ketika menepuk-nepuk kulit pipinya yang kisut-kendur. Suara bicara sosok itu yang menggema per kata-kata, di telinganya persis wangsit Hyang, memekakkannya hingga kemerotak persendian di sekujur tubuhnya kalah beradu dengan kemerosak gesekan dedaun yang diterjang angin amat kencang, amat mencekam.

Belum genap emak menghilangkan kekalutannya, tiba-tiba sosok mahacantik itu melesat dekat ke arahnya. Hingga ia harus memejamkan matanya rapat-rapat, dan hanya dua cuping telinganya yang waspada. "Akan kuambil kembali ia bilamana purnama telah sempurna….!" Hanya beberapa detik setelah gaungnya suara kakupak dari arah sawah penduduk di kanan-kirinya menghampiri gendang telinganya. Hanya beberapa detik setelah angin kencang tiba-tiba tenang, jalanan berbatu itu kembali gelap gulita. Nyala obor di tangan emak gemetar lamban.

Setelah peristiwa itu, esok paginya emak mengalami kesakitan dari ubun-ubun hingga kuku-kuku jemari kakinya. Kepalanya lebih pening dari sakit pusing biasa. Tubuhnya gemetar menggigil lebih hebat dari akibat kedinginan biasanya. Perutnya lebih tertusuk-tusuk ketimbang rasa lapar biasa. Tulang-tulangnya lebih rapuh daripada pengemis tua renta yang terlantar.

Orang-orang dusun dan sekitarnya memutuskan agar emak dan suaminya dipencilkan ke hutan di perbatasan dusun. Mereka percaya bahwa suami-istri "aneh" itu telah dikutuk. Makhluk cantik yang konon mencegat emak pada malam ganjil itu adalah jin yang menjelma dalam wujud malaikat samarannya. Bahkan kepala sesepuh dusun angkat tangan mengamini mereka.

Perut emak seperti perempuan hamil. Ia pun merasakan kesakitan-kesakitan yang lazim dialami oleh kebanyakan perempuan hamil. Emak memang hamil. Sementara minggu bergulir menjadi bulan. Dan ketika bulan menginjak putarannya yang kesembilan, emak melahirkan seorang bayi laki-laki. Tanpa bantuan dukun, tabib, atau orang pintar mana pun. Bayi laki-laki itu diberinya nama Banjo.

Banjo tumbuh sehat, itu pasti. Emak dan suaminya bahagia. Pun orang-orang dusun terimbas bunga rasa itu, meski dengan air muka yang berbeda. Melihat Banjo sama saja berdiri menonton satu atraksi "makhluk aneh" di sirkus pasar malam. Mereka membiarkan Banjo bertingkah. Bocah itu tak sadar, kegirangan penduduk dusun jauh lebih menyakitkan daripada tersengat ribuan lebah pekerja. Setiap kali orang-orang dusun terbahak, setiap kali itu pula kerongkongan emak semakin tercekat.

Hingga usia Banjo dua tahun lebih, hingga hari yang dijanjikan itu tiba, emak mendapat mimpi aneh. Dalam mimpi itu, ia melihat Banjo menjadi santapan makhluk serba nyala merah dan meruapkan hawa sangat panas. Tak ada yang sempat diingatnya, kecuali dengung suara menggelegar dari arah makhluk ganjil itu. "Aku minta anakku dari rahimmu….!" Emak tersimpuh lemas di samping bujur kaku suaminya yang meradang seperti orang sekarat.

Sepeninggal suaminya, masih ia ingat ia tak kuasa menolong Banjo yang meronta-ronta waktu itu. Matanya merah. Kedua tangannya mencengkeram jeruji-jeruji kayu, membuat kurungan kayu itu terguncang cukup keras. Saat itulah seorang anak kecil ingusan berlari menghambur ke halaman rumahnya ketika mendengar genderang dipalu di jalanan dusun. Peristiwa yang jarang terjadi. Anak kecil itu berlari membawa badannya yang tambur tanpa baju. Matanya bersinar-sinar memandangi arak-arakan para lelaki dusun sambil memalu bekhudah2 yang bertabuh hingar. Biji mata anak kecil itu mengikuti arakan. Serombongan laki-laki tanpa baju yang wajah dan tubuhnya dicoreng-corengi arang hitam mengarak seorang anak manusia dalam kurungan kayu yang ditandu. Mereka menuju ke puncak bukit di mana bertahta sebuah pohon kekar, mahabesar, dan menjulang tinggi. Di pelataran bawah pohon itulah Banjo dibaringkan di atas meja batu berlumut.

Banjo harus menjalani prosesi kurban kepada Hyang. Tubuh bocah laki-laki itu ditelanjangi. Kedua tangan dan kakinya diikat di masing-masing sisi meja batu. Setelah itu, seorang tetua ritual memercikkan air yang diyakini bertuah menghilangkan kekuatan jahat yang menghuni jasad seseorang, sambil merapal mantra.

Ingatan emak menjadi gelap. Tapi tak segelap malam ini. Tapak tangan kasar emak tak lepas mengusap kepala Banjo. Hampir empat belas malam berlalu, terhitung sejak malam ia "mencuri" tubuh kapar Banjo, mereka berpindah-pindah tempat perlindungan. Keduanya sebenarnya tidak ingin sembunyi dari kejaran orang-orang dusun. Emak sungguh berhasrat untuk meyakinkan mereka bahwa Banjo benar-benar anak yang lahir dari mulut rahimnya, bukan anak tumbal Hyang yang dipinjamkan di rahimnya. Tapi mereka tidak pernah bisa menerima keyakinannya itu. Karenanya ia dan Banjo harus berlindung dari piciknya kepercayaan mereka pada sesuatu yang menggariskan durhaka tidaknya manusia di hadirat Hyang.

Hampir sepertiga malam. Makhluk-makhluk yang dinapasi misteriusnya malam, makin menggeliat dalam kehitaman rimba bumi. Tak peduli sebuah tugas mahamulia telah memampatkan kerongkongan orang-orang dusun yang, kebanyakan para lelakinya, bermalam-malam membidik dua manusia paling dikutuk: Banjo dan emaknya. Meski membuat ladang-ladang garapan mereka terbengkalai, itu tak apa! Yang penting bagi mereka, dusun mereka bersih dari manusia-manusia durhaka, yang mengingkari wasiat Hyang.

Waktu bergerak lambat bagai geliatan pesolek di mata ratusan laki-laki dusun yang tersebar di tiap-tiap sudut batas dusun, juga di tempat-tempat gelap terpencil. Dan, dua buronan mereka telah menjadi begitu terkutuk di mata mereka, karena membuat tubuh mereka memagut dinginnya malam demi malam tanpa kehangatan dari napas sengal perempuan-perempuan mereka. Membuat biji mata mereka nyaris melesat dari liangnya. Membuat darah mereka mendidih, mengerjat-ngerjat sesekali, seperti dibakar ubun-ubun mereka. Lagi-lagi salah satu dari mereka geram.

"Haram jadah! Aku sudah muak! Terserah laknat Hyang kalau dusun ini masih membiarkan dua manusia terkutuk-Nya itu hidup, bahkan mungkin bisa lebih lama dari hidup kita semua. Aku tak peduli. Persetan! Bukankah Dia juga yang menghidup-matikan mereka?"

Persis, belum habis satu kali kedipan mata, setelah laki-laki dusun yang geram itu memberondongkan kalimat umpatannya, libasan petir sekonyong merobek angkasa yang gelap tak berbintang. Menghamburkan ratusan laki-laki dusun dari pos-pos penjagaan mereka, semburat tunggang-langgang, seperti sekawanan semut yang baru saja diobrak-abrik sarangnya oleh moncong trenggiling. Cambuk-cambuk petir itu mengoyak-moyak kesadaran mereka. Semua terjadi seperti dalam murka yang dahsyat.

***

Setelah yakin melelapkan Banjo di atas tumpukan daun-daun lebar dan reranting kering di sisinya, emak bangkit. Melangkah terbungkuk-bungkuk menuju mulut gua kecil yang tak sengaja diketemukannya persis ketika libasan petir pertama, libasan paling kilat. Emak memandang saja ke kejauhan. Petir mencekam. Kesiur angin menegakkan bulu kuduk.

Hingga…hingga sepertinya emak melihat kelebat sinar putih. Tinggi dan besar. Mendekat…Mendekat…Lalu melampaui diri tegaknya di tepi mulut gua. Melingkari tubuh Banjo yang meringkuk lelap.
Tak ada perlawanan. Tatapan emak telah menjadi begitu hampa. ***

Catatan:
1 Yakni bebunyian dari bambu untuk menghalau burung di ladang.
2 Alat musik seperti terbangan, namun dalam bentuknya yang lebih besar.

Perempuan Air

Perempuan Air 
Cerpen: Suadi Sulaiman Laweueng 


Perempuan itu terus memandang ke sekelilingnya yang telah porak poranda. Setelah kampungnya dibinasakan ombak, dia langsung turun dari gunung menelusuri jalan-jalan yang penuh kenangan, jalan pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan, setiap jengkal rerumputan yang berdecakan karena basah embun yang belum tersentuh para penyadap getah. Hutan karet bapaknya yang terpaksa dijual ke seorang tengkulak.
Dia pulang sendiri, seperti kedatangannya. Tanpa siapa-siapa. Hening hutan dan kicau burung parau mengantarkannya pada kenangan. Daun karet gugur dan sinar matahari menyusup panas. Dia menghela napasnya. Dihapusnya keringat yang meleleh membasahi jenjang lehernya dengan setangan yang dulu dibordirnya sendiri. Tak lama keluarlah nyanyian kecil dari mungil mulutnya. Pedih, pilu, sebuah sayatan diperdengarkannya kepada alam yang sedang memusuhinya.
Perempuan itu mengaduh. Dia meratap pada kenangan masa kecilnya. Pada setiap embun yang membasahi sepasang kakinya. Sepasang kaki kelinci yang diburu dengan sebuah alasan. ”Mamak....” desisnya. Dia terjatuh. Bulir-bulir bening air keluar dari matanya. Dia menggeram. Perempuan itu menahan rindunya. Diraihnya sepotong kayu karet kering yang ada di dekat tangannya. Dia berusaha bangkit, jilbab hitamnya menggantung dan berkibar ditiup angin kematian. ”Sudah dekat,” gumamnya sembari melangkah lagi.
Kakinya melangkah pada rumput basah dan genangan air. Semua masih hening. Sama seperti ketika dia meninggalkan kampungnya tiga tahun lalu. ”Kampung kita akan semakin hening,” kata Zahra suatu ketika. Perempuan itu berhenti sejenak. Dia seperti dibingungkan oleh ingatannya sendiri. ”Inikah kampungku? Inikah?” dia masih bertanya pada diri sendiri. ”Lalu, lalu di mana pos penjagaan yang dulu berdiri dan membuat kami semua ketakutan? Membuat kami tidak aman untuk menatapnya, membuat semua lelaki dewasa di kampung kami pergi. Sehingga kampung kami menjadi kampung perempuan.” Memang, di pintu masuk kampung perempuan itu dulu ada sebuah pos keamanan yang dibuat justru bukan untuk membuat isi kampung merasa aman.
Perempuan itu berdiri di atas tapak sebuah bangunan. Disingkapnya celana panjangnya sehingga kelihatan betis putihnya. ”Lumpur, lumpur telah menenggelamkan keangkuhannya kini,” umpatnya. Diseretnya lagi kakinya meninggalkan bangunan yang ditutupi lumpur dan disesaki sampah. ”Kenapa hai laut? Kenapa kau karamkan juga kampung kami? Kenapa tidak mereka saja yang kau ambil. Pelan-pelan, pada suatu malam, bahkan diam-diam. Sebagaimana mereka telah mengambil lelaki-lelaki di kampung kami pada malam hari, dengan rapi untuk kemudian kami temukan lelaki-lelaki kampung kami itu mati. Terpuruk di lubang-lubang galian, dan pinggir-pinggir jalan.” Perempuan itu mulai marah. Matanya merah.

***
Seonggok daging tanpa lengan menyembul dari balik reruntuhan meunasah. ”Alahai… teungku,” dia terperanjat. Perempuan itu mengenal mayat yang ada di depannya. Dengan sopan dibalikkannya sesosok tubuh yang sudah menngelembung itu. Matanya semakin merah. ”Hidup tidak membutuhkan orang baik sepertimu. Karena hidup adalah kejahatan. Karena hidup adalah kekejaman, istirahatlah teungku. Istirahatlah.” Tubuh renta yang sudah tak berlengan kiri itu diletakkan dengan sopan. Selembar isi kitab suci mengapung di lumpur, tak jauh dari tubuh ringkih sang teungku.
Di tempat yang sama, banyak orang yang kembali turun dari tempat pengungsian. Mengumpulkan sanak saudaranya yang tercerai-berai. Mengumpulkan apa saja yang masih bisa digunakan, daun pintu, gergaji besi, grendel, gayung, penggorengan, kursi plastik, vas bunga, frame foto, kopor, piring pecah….
Tak lupa pula mereka mengumpulkan ingatan-ingatan masa silam. Rumah, kampung yang damai, seperti ketika orang-orang berseragam itu belum datang, menginjakkan kaki mereka dan mendirikan pos keamanan tepat di depan pintu masuk kampung kami.
Perempuan itu bangkit. Usianya masih belia. Seharusnya saat ini dia sedang memasak kuah pliek* atau menumbuk emping sambil bersenda gurau dengan Zahra. Atau juga, menghiasi tangannya dengan inai pengantin. ”Di mana Zahra?” batinnya. Perempuan itu panik dan menyeret kakinya menjauhi puing-puing meunasah. ”Di mana rumahnya?”. Perempuan itu memastikan bahwa pancangan kayu yang ada di depan matanya adalah puing rumah panggung orang tua Zahra. ”Tidak mungkin. Itu sudah tiga tahun yang lalu,” dia menggelengkan kepalanya. Sebuah boneka tergeletak basah oleh lumpur, kemudian dipungutnya. Matanya basah. ”Seandainya kau ikut aku…” katanya mengelus wajah boneka itu seraya beranjak dari tapak rumah Zahra.
Matanya merah saga. Dendam semakin jelas membara di sana. Di singkapnya selendang hitam yang menutupi sebagian wajahnya. Keringat mengalir, membasahi kerah kemejanya. Dia berjalan tak tentu tujuan. Kampung itu telah rata. Bahkan pohon melinjo yang rindang dan menyemaki kampung tak satu pun lagi terlihat. Rumah-rumah panggung tinggal onggokan puing-puing monumen. Arca memoar bisu yang memendam seribu kisah. Bahkan jauh sebelum air naik dan menenggelamkannya. ”Di mana rumahku?” perempuan itu masih tak habis pikir. Seharusnya, setelah dia sampai di tiang listrik ketiga dari meunasah, dia akan menemukan rumahnya. Tapi tak ada. Bahkan tiang listrik ketiga itu sudah hilang tak berbekas.
Para tetangga mondar-mandir di hadapannya. Perempuan itu mengenal mereka. Namun semuanya terlihat sibuk mengumpulkan jenazah kerabatnya. Ada yang membawa sepotong kepala, ada yang membawa betis, ada yang membawa lengan kiri. Potongan-potongan tubuh itu dipungut, seperti batang jagung. Tak satu pun di antara mereka saling berbicara, sekedar mempertanyakan kabar masing-masing. Sebab mereka tahu, semua sedang mencari.
Sebilah rencong terlihat menyembul dari pinggangnya, ketika perempuan itu membungkukkan badan. ”Di mana emak? Di mana rumahku? Di mana tanahku? Di mana Zahra? Di mana orang-orang semua?” kutuknya pada lumpur yang kini digenggamnya? Tak ada suara lain yang terdengar di sana, kecuali suara ombak laut yang kian jelas dan masih menyimpan amarah. ”Bagaimana mungkin hai laut, sekarang kau ikut memusuhi kami? Bagaimana mungkin hai laut, kami yang selalu bersyair untukmu kau gulung dalam gelombang lumpur? Apa maumu?”. Disapunya lumpur yang ada di genggamnya ke seluruh wajah. Hingga wajahnya hitam, sehitam jilbabnya. ”Sekarang aku juga benci kau! Aku benci kau laut!!!” teriaknya. Hening. Semua hening.
Aku ada di sana. Tepat ketika suatu malam terdengar suara letusan. Bapaknya mati. Bapak perempuan itu mati bersimbah darah. Tak ada yang mau membuka pintu. Siapa tahu? Tidak ada yang tahu malam ini giliran siapa yang harus mati. Ataupun diambil untuk kemudian ditemukan mati pada keesokan harinya. Atau bahkan tidak pernah ditemukan lagi sama sekali. Tidak ada yang tahu. Tapi aku tahu. Sebab aku ada di sana malam itu.

***
Maka perempuan itu naik ke gunung. Mencabut rencong dan mengujamkannya ke bumi. ”Emak!” teriaknya. Perempuan itu teriak ketika dia memastikan bahwa yang ada di samping kakinya adalah foto emaknya. Perempuan tua dengan kerut-kerut wajah yang muram. ”Emak!!” teriaknya luka. Ada ribuan orang yang teriak emak di saat yang sama. Tapi hening. Cuma suara ombak laut yang terdengar kian jelas. Di hapusnya lumpur yang melekat di frame foto hitam putih itu.
”Di mana aku harus mengejar ombak? Di mana aku harus mengejar ombak? Di mana aku harus mengejar ombak?” teriaknya sambil mencabut rencongnya yang terendam lumpur. Luka hatinya semakin lebar. Pedih jiwanya semakin nyata. Perempuan itu berlari meninggalkan tapak rumahnya, meninggalkan penggalan-penggalan cerita lama. Dihunusnya rencong, disambutnya suara ombak yang menderau.

***
Aku tak mendengar kisah perempuan itu lagi. Sejak pertemuan terakhir kami di antara reruntuhan puing-puing kampung tempo hari. Mungkin dia telah hilang kini. Bersama amarah ombak yang membuncah dan melumat segala sumber kesedihannya. Mungkin juga dia akan kembali lagi nanti. Dengan sepasang mata yang saga.
Tidak lagi larut dalam pencarian rumah dan emaknya. Mungkin dia kembali dengan niat dan cita-cita yang sama ketika dia mengawali kisahnya sebagai manusia gunung. Mungkin saja. Kenapa tidak? Selalu akan ada orang yang naik ke gunung dari kampung kami. Dan selalu ada yang turun kembali. Walau apa pun yang terjadi.

Aceh, 22 Januari 2005

*Sayuran khas Aceh yang terbuat dari santan kelapa.