Tampilkan postingan dengan label Tulisan Bebas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisan Bebas. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Januari 2012

REMAJA DAN PERILAKU KONSUMTIF

REMAJA DAN PERILAKU KONSUMTIF     

Belanja, adalah kata yang sering digunakan sehari-hari dalam konteks perekonomian, baik di dunia usaha maupun di dalam rumah tangga. Namun kata yang sama telah berkembang artinya sebagai suatu cerminan gaya hidup dan rekreasi pada masyarakat kelas ekonomi tertentu. Belanja juga punya arti tersendiri bagi remaja. 

Pola Hidup Konsumtif 

Kata “konsumtif” (sebagai kata sifat; lihat akhiran –if) sering diartikan sama dengan kata “konsumerisme”. Padahal kata yang terakhir ini mengacu pada segala sesuatu yang berhubungan dengan konsumen. Sedangkan konsumtif lebih khusus menjelaskan keinginan untuk mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang diperlukan secara berlebihan untuk mencapai kepuasan yang maksimal.

Memang belum ada definisi yang memuaskan tentang kata konsumtif ini. Namun konsumtif biasanya digunakan untuk menunjuk pada perilaku konsumen yang memanfaatkan nilai uang lebih besar dari nilai produksinya untuk barang dan jasa yang bukan menjadi kebutuhan pokok. Misalnya sebagai ilustrasi, seseorang memiliki penghasilan 500 ribu rupiah. Ia membelanjakan 400 ribu rupiah dalam waktu tertentu untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Sisa 100 ribu ia belanjakan sepasang sepatu karena sepatu yang dimilikinya untuk bekerja sudah rusak. Dalam hal ini orang tadi belum disebut berperilaku konsumtif. Tapi apabila ia belanjakan untuk sepatu yang sebenarnya tidak ia butuhkan (apalagi ia membeli sepatu 200 ribu dengan kartu kredit), maka ia dapat disebut berperilaku konsumtif.
Contoh ini relatif mudah untuk menentukan apakah seseorang telah berperilaku konsumtif atau tidak. Tapi coba bayangkan seseorang yang memiliki penghasilan 1 juta, untuk memenuhi kebutuhan pokoknya 400 ribu, dan 300 ribu digunakan untuk membeli barang yang tidak dia butuhkan, sedang sisanya digunakan untk menambah modalnya dalam usaha. Apakah ia dapat digolongkan berperilaku konsumtif?
Perilaku Konsumtif Remaja
Bagi produsen, kelompok usia remaja adalah salah satu pasar yang potensial. Alasannya antara lain karena pola konsumsi seseorang terbentuk pada usia remaja. Di samping itu, remaja biasanya mudah terbujuk rayuan iklan, suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya. Sifat-sifat remaja inilah yang dimanfaatkan oleh sebagian produsen untuk memasuki pasar remaja.
Di kalangan remaja yang memiliki orang tua dengan kelas ekonomi yang cukup berada, terutama di kota-kota besar, mall sudah menjadi rumah kedua. Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka juga dapat mengikuti mode yang sedang beredar. Padahal mode itu sendiri selalu berubah sehingga para remaja tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Alhasil, muncullah perilaku yang konsumtif.
Dari sejumlah hasil penelitian, ada perbedaan dalam pola konsumsi antara pria dan wanita. Juga terdapat sifat yang berbeda antara pria dan wanita dalam perilaku membeli. Perbedaan tersebut adalah:
Pria:
Wanita:
  1. mudah terpengaruh bujukan penjual
  2. sering tertipu karena tidak sabaran dalam memilih barang
  3. mempunyai perasaan kurang enak bila tidak membeli sesuatu setelah memasuki toko
  4. kurang menikmati kegiatran berbelanja sehingga sering terburu-buru mengambil keputusan membeli.
 
  1. lebih tertarik pada warna dan bentuk, bukan pada hal teknis dan kegunaannya
  2. tidak mudah terbawa arus bujukan penjual
  3. menyenangi hal-hal yang romantis daripada obyektif
  4. cepat merasakan suasana toko
  5. senang melakukan kegiatan berbelanja walau hanya window shopping (melihat-lihat saja tapi tidak membeli).


Daftar ini masih dapat dipertanyakan apakan memang benar ada gaya yang berbeda dalam membeli antara pria dan wanita. Selain itu, penelitian-penelitian yang telah dilakukan belum mendapatkan hasil yang konsisten apakah remaja pria atau waniata yang lebih banyak membelanjakan uangnya.
 
  Apakah Konsumtif Berbahaya?

  Perilaku konsumtif pada remaja sebenarnya dapat dimengerti bila melihat usia remaja sebaga usia peralihan dalam mencari identitas diri. Remaja ingin diakui eksistensinya oleh lingkungan dengan berusaha menjadi bagian dari lingkungan itu. Kebutuhan untuk diterima dan menjadi sama dengan orang lain yang sebaya itu menyebabkan remaja berusaha untuk mengikuti berbagai atribut yang sedang in. Remaja dalam perkembangan kognitif dan emosinya masih memandang bahwa atribut yang superfisial itu sama penting (bahkan lebih penting) dengan substansi. Apa yang dikenakan oleh seorang artis yang menjadi idola para remaja menjadi lebih penting (untuk ditiru) dibandingkan dengan kerja keras dan usaha yang dilakukan artis idolanya itu untuk sampai pada kepopulerannya.
  Menjadi masalah ketika kecenderungan yang sebenarnya wajar pada remaja ini dilakukan secara berlebihan. Pepatah “lebih besar pasak daripada tiang” berlaku di sini. Terkadang apa yang dituntut oleh remaja di luar kemampuan orang tuanya sebagai sumber dana. Hal ini menyebabkan banyak orang tua yang mengeluh saat anaknya mulai memasuki dunia remaja. Dalam hal ini, perilaku tadi telah menimbulkan masalah ekonomi pada keluarganya.
  Perilaku konsumtif ini dapat terus mengakar di dalam gaya hidup sekelompok remaja. Dalam perkembangannya, mereka akan menjadi orang-orang dewasa dengan gaya hidup konsumtif. Gaya hidup konsumtif ini harus didukung oleh kekuatan finansial yang memadai. Masalah lebih besar terjadi apabila pencapaian tingkat finansial itu dilakukan dengan segala macam cara yang tidak sehat. Mulai dari pola bekerja yang berlebihan sampai menggunakan cara instan seperti korupsi. Pada akhirnya perilaku konsumtif bukan saja memiliki dampak ekonomi, tapi juga dampak psikologis, sosial bahkan etika.

Senin, 21 November 2011

Ragam Penelitian menurut Lain-lain dan Syarat penelitian

Ragam Penelitian menurut Lain-lain

Dalam literatur terdapat banyak ragam penelitian menurut berbagai sudut pandang,
dan tidak semua ragam dapat dibahas disini. Pembahasan lain-lain hanya akan melihat
ragam penelitian bersumber dari tiga pustaka, yaitu buku Arikunto (1998), Suryabrata(1983)- Sumadi Suryabrata, 1983, Metodologi Penelitian, CV Rajawali, Jakarta, hal. 15-64, dan Yin (1989) - Robert K. Yin, 1989, Case Study Research, Sage Publication, Newbury Park, California, hal. 15-20.
1. Ragam Penelitian menurut pendekatan—sumber: Arikunto (1998: 9-10)
a. Penelitian dengan pendekatan longitudinal (satu obyek penelitian dilihat
bergerak sejalan dengan waktu)
b. Penelitian dengan pendekatan penampang-silang (cross-sectional—yaitu
banyak obyek penelitian dilihat pada satu waktu yang sama).
2. Ragam Penelitian—sumber: Suryabrata (1983: 15-64)
a. Historis (membuat rekonstruksi masa lampau secara sistematis dan obyektif)
b. Deskriptif (membuat deskripsi secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai
fakta dan sifat populasi atau daerah tertentu)
c. Perkembangan (menyelidiki pola dan urutan pertumbuhan dan/atau perubahan
sebagai fungsi waktu)
d. Kasus/Lapangan (mempelajari secara intensif latar belakang keadaan sekarang
dan interaksi lingkungan suatu obyek)
e. Korelasional (mengkaji tingkat keterkaitan antara variasi suatu faktor dengan
variasi faktor lain berdasar koefisien korelasi)
f. Eksperimental sungguhan (menyelidiki kemungkinan hubungan sebab akibat
dengan melakukan kontrol/kendali)
g. Eksperimental semu (mengkaji kemungkinan hubungan sebab akibat dalam
keadaan yang tidak memungkinkan ada kontrol/kendali, tapi dapat diperoleh
informasi pengganti bagi situasi dengan pengendalian)
h. Kausal-komparatif (menyelidiki kemungkinan hubungan sebab-akibat, tapi tidak
dengan jalan eksperimen—dilakukan denganpengamatan terhadap data dari
faktor yang diduga menjadi penyebab, sebagai pembanding)
i. Tindakan (mengembangkan ketrampilan baru atau pendekatan baru dan
diterapkan langsung serta dikaji hasilnya).

Ragam Penelitian— 9
3. Ragam Penelitian berkaitan dengan bentuk permasalahan—sumber: Yin (1998: 15-20)

Ragam Penelitian & Syarat penelitian

Melihat banyak ragam penelitian dari berbagai sudut pandang dan dari berbagai
pendapat para penulis, maka kita perlu hati-hati dalam menyebut ragam penelitian kita,
karena dengan istilah yang sama tapi orang lain mungkin menangkap artinya secara
berbeda. Sering pula untuk satu pengertian yang sama tapi diberi istilah yang berbeda.
Selain itu, perlu diperhatikan bahwa penelitian perlu dilakukan dengan syarat:
1) SISTEMATIK (menuruti prosedur tertentu, tidak ruwet), dan
2) OBYEKTIF (tidak subyektif, dengan sampel yang cukup, dipublikasikan agar dapat
dievaluasi oleh kelompok pakar bidangnya/ peer)
Catatan: syarat menjadi peneliti yang baik meliputi antara lain: mampu berpikir sistematis,
dan jujur

Ragam Penelitian menurut Strategi (Opini, Empiris, Arsip, Logika internal)

Ragam Penelitian menurut Strategi (Opini, Empiris, Arsip, Logika internal)

Buckley dkk. (1976: 23) menjelaskan arti metodologi, strategi, domain, teknik,
sebagai berikut:
1) Metodologi merupakan kombinasi tertentu yang meliputi strategi, domain, dan teknik
yang dipakai untuk mengembangkan teori (induksi) atau menguji teori (deduksi).
2) Strategi terkait dengan sifat alamiah yang esensial dari data dan proses data tersebut
dikumpulkan dan diolah.
3) Domain berkaitan dengan sumber data dan lingkungannya.
4) Teknik terkait dengan alat pengumpulan dan pengolahan data. Teknik dibedakan dua
macam, yaitu:
a) Teknik “formal” merupakan teknik yang diterapkan secara obyektif dan
menggunakan data kuantitatif.
b) Teknik “informal” merupakan teknik yang diterapkan secara subyektif dan
menggunakan data kualitatif.
6— Ragam Penelitian
Secara lebih sederhana, dapat dikatakan bahwa strategi berkaitan dengan “cara” kita
melakukan pengembangan atau pengujian teori. Berkaitan dengan strategi, ragam penelitian
dapat dibedakan menjadi empat, yaitu penelitian: (1) opini, (2) empiris, (3) kearsipan, dan
(4) analitis.

1. Penelitian Opini
Bila peneliti mencari pandangan atau persepsi orang-orang terhadap suatu
permasalahan, maka ia melakukan penelitian opini. Orang-orang tersebut dapat merupakan
kelompok atau perorangan (jadi domain-nya dapat berupa kelompok atau individual).
Terdapat banyak ragam metode/teknik yang dapat dipakai untuk penelitian opini
perorangan, salah satunya yang populer dan formal adalah: metode penelitian survei (survey
research)- lihat buku Masri Singarimbun dan Sofyan Effendi, 1995, Metode Penelitian Survei, LP3ES, Jakarta.
. Selain itu, penjaringan persepsi perorangan yang informal dapat dilakukan
dengan teknik wawancara.
Untuk mengumpulkan opini kelompok, secara formal, dapat dipakai metode Delphi.
Metode ini dilakukan terhadap kelompok pakar, untuk mengembangkan konsensus—atau
tidak adanya konsensus—dengan menghindari pengaruh opini antar pakar-lihat buku Stephen Isaac dan William B. Michael, 1981, Handbook in Research and Evaluation. Edisi
kedua. Edits publishers, San Diego, California, hal. 114 -115. Teknik informal
untuk menggali opini kelompok dapat dilakukan antara lain dengan curah gagas
(brainstorming)- lihat buku Alex F. Osborn, 1963. Applied Imagination: Principles and Prosedures of Creative
Problem-Solving. 3rd Edition. Charles Scribner's Sons, New York, hal. 156. Cara ini dilakukan dengan (a) menfokuskan pada satu masalah yang
jelas, (b) terima semua ide, tanpa disangkal, tanpa melihat layak atau tidak, dan (c)
katagorikan ide-ide tersebut.

2. Penelitian Empiris
Empiris terkait dengan observasi atau kejadian yang dialami sendiri oleh peneliti.
Penelitian empiris dapat dibedakan dalam tiga macam bentuk, yaitu: studi kasus, studi
lapangan, dan studi laboratorium. Ketiga macam penelitian ini dapat dibedakan dari dua
sudut pandang, yaitu: (a) keberadaan rancangan eksperimen, dan (b) keberadaan kendali ekperimen.

Teknik observasi merupakan teknik yang dapat dipakai untuk ketiga macam
penelitian empiris di atas. Selain itu, untuk studi lapangan dapat dipakai teknik studi waktu
dan gerak (time and motion study), misal dibantu dengan peralatan kamera video, TV
sirkuit rertutup, atau alat “penangkap” kejadian (sensor) dan perekam yang lain. Untuk
studi laboratorium dapat dilakukan antara lain dengan simulasi (misal dengan komputer).

3. Penelitian Kearsipan
“Arsip”, dalam hal ini, diartikan sebagai rekaman fakta yang disimpan. Kita
bedakan tiga tipe arsip, yaitu: (1) primer, (2) sekonder, dan (3) fisik. Dua tipe yang pertama
berkaitan dengan arsip tertulis, tape, dan bentuk -bentuk lain dokumentasi. Arsip primer
adalah rekaman fakta langsung oleh perekamnya (misal: data perkantoran), sedangkan arsip
sekunder merupakan hasil rekaman orang/pihak lain. Tipe ketiga, yaitu arsip fisik, dapat
berupa batu candi, jejak kaki, dan sebagainya.
Teknik informal dalam penelitian ini berupa antara lain: scanning dan observasi.
Teknik formal untuk arsip tertulis primer dapat dilakukan dengan metode analisis isi
(content analysis). Terhadap arsip sekunder dapat dilakukan teknik sampling, sedangkan
terhadap arsip fisik dapat dilakukan antara lain dengan pengukuran erosi dan akresi (untuk
penelitian arkeologi).

4. Penelitian Analitis
Terdapat problema penelitian yang tidak dapat dipecahkan dengan penelitian opini,
empiris atau kearsipan. Penelitian tersebut perlu dipecahkan secara analitis, yaitu dilakukan
dengan cara memecah problema menjadi sub -sub problema (atau variabel-variabel) dan
dicari karakteristik tiap sub problema (variabel) dan keterkaitan antar sub problema
(variabel). Penelitian analitis sangatmenggantungkan diri pada logika internal penelitinya,
sehingga subyektivitas peneliti perlu dihindari. Untuk itu, penelitian analitis perlu
mendasarkan diri pada filsafat atau logika.
Terdapat berbagai teknik formal dalam penelitian analitis, antara lain: logika
matematis, pemodelan matematis, dan teknik organisasi formal (flowcharting, analisis
jaringan, strategi pengambilan keputusan, algoritma, heuristik). Catatan: Riset operasi merupakan pengembangan dari penelitian analitis. Teknik informal untuk penelitian analitis
meliputi antara lain: skenario, dialektik, metode dikotomus, metode teralogis —lihat Buckley
dkk. (1976: 27).

Ragam Penelitian menurut Paradigma Keilmuan

Ragam Penelitian menurut Paradigma Keilmuan

Menurut Muhajir (1990), terdapat tiga macam paradigma keilmuan yang berkaitan
dengan penelitian, yaitu: (1) positivisme, (2) rasionalisme, dan (3) fenomenologi. Ketiga
macam penelitian ini dapat dibedakan dalam beberapa sudut pandang (a) sumber
kebenaran/teori, dan (2) teori yang dihasilkan dari penelitian.
Dari sudut pandang sumber kebenaran, paradigma positivisme percaya bahwa
kebenaran hanya bersumber dari empiri sensual, yaitu yang dapat ditangkap oleh
pancaindera, sedangkan paradigma rasionalisme percaya bahwa sumber kebenaran tidak
hanya empiri sensual, tapi juga empiri logik (pikiran: abstraksi, simplifikasi), dan empiri etik
(idealisasi realitas). Paradigma fenomenologi menambah semua empiri yang dipercaya
sebagai sumber kebenaran oleh rasionalisme dengan satu lagi yaitu empiri transendental
(keyakinan; atau yang berkaitan dengan Ke-Tuhan-an).
Dari pandangan teori yang dihasilkan, penelitian dengan berbasis paradigma
positivisme atau rasionalisme, keduanya menghasilkan sumbangan kepada khazanah ilmu
nomotetik (prediksi dan hukum-hukum dari generalisasi). Di lain pihak, penelitian berbasis
fenomenologi tidak berupaya membangun ilmu dari generalisasi, tapi ilmu idiografik (khusus
berlaku untuk obyek yang diteliti). Sering ditanyakan manfaat dari ilmu yang berlaku lokal
dibandingkan ilmu yang berlaku umum (general). Keduanya saling melengkapi, karena ilmu
lokal menjelaskan kekhasan obyek dibandingkan yang umum. Misal, kini sedang
berkembang ilmu tentang ASEAN (ASEAN studies). Manfaat dari ilmu semacam ini dapat
dicontohkan sebagai berikut: di negara barat, banyak orang ingin berdagang di ASEAN;
agar berhasil baik, mereka perlu mempelajari tatacara/kebiasaan/kultur berdagang di
ASEAN, maka mereka mempelajari ilmu lokal yang menjelaskan perbedaan tatacara
perdagangan di kawasan tersebut dibanding tatacara perdagangan yang umum di dunia.
Untuk lebih menjelaskan perbedaan antar ketiga macam penelitian berbasis tiga
macam paradigma yang berbeda tersebut, di bawah ini (lihat Tabel Ragam-1)satu per satu
dibahas lebih lanjut, terutama dari (a) kerangka teori sebagai persiapan penelitian, (b)
kedudukan obyek dengan lingkungannya, (c) hubungan obyek dan peneliti, dan (d)
generalisasi hasil—sumber: Muhadjir (1990).

Ragam Penelitian menurut Bentuk data (kuantitatif atau kualitatif)

Ragam Penelitian menurut Bentuk data (kuantitatif atau kualitatif)

Macam penelitian dapat pula dibedakan dari “bentuk” datanya, dalam arti data
berupa data kuantitatif atau data kualitatif. Data kuantitatif diartikan sebagai data yang
berupa angka yang dapat diolah dengan matematika atau statistik, sedangkan data kualitatif
adalah sebaliknya (yaitu: datanya bukan berupa angka yang dapat diolah dengan
matematika atau statistik). Meskipun demikian, kadang dilakukan upaya kuantifikasi
terhadap data kualitatif menjadi data kuantitatif. Misal, persepsi dapat diukur dengan
membubuhkan angka dari 1 sampai 5.
Penelitian yang datanya berupa data kualitatif disebut penelitian kuantitatif. Dalam
penelitian seperti itu, sering dipakai statistik atau pemodelan matematik. Sebaliknya,
penelitian yang mengolah data kualitatif disebut sebagai penelitian kualitatif. Berkaitan
4— Ragam Penelitian
dengan macam paradigma (positivisme, rasionalisme, fnomenologi) yang dibahas di bagian
berikut, macam penelitian dapat dikombinasikan, misal: penelitian rasionalisme kuantitatif,
penelitian rasionalisme kualitatif (misal: penelitian yang mengkait pola kota atau pola desain
bangunan).

RAGAM PENELITIAN

 RAGAM PENELITIAN

Penelitian itu bermacam-macam ragamnya. Dalam bab “Pengantar: Apakah Penelitian
Itu?” telah dibahas macam penelitian dilihat dari macam tujuannya, maka dalam bab ini
ragam (variasi) penelitian dilihat dari:
1) macam bidang ilmu
2) macam pembentukan ilmu
3) macam bentuk data
4) macam paradigma keilmuan yang dianut
5) macam strategi (esensi alamiah data, proses pengumpulan dan pengolahan data)
6) lain-lain.
Selain itu, sebetulnya masih banyak ragam penelitian dilihat dari segi lainnya, tapi dalam bab
ini tidak akan dibahas—karena tidak berkaitan dengan program studi kuliah ini.


Ragam Penelitian menurut Bidang Ilmu

Secara umum, ilmu-ilmu dapat dibedakan antara ilmu-ilmu dasar dan ilmu-ilmu
terapan. Termasuk kelompok ilmu dasar, antara lain ilmu-ilmu yang dikembangkan di
fakultas -fakultas MIPA (Mathematika, Fisika, Kimia, Geofosika), Biologi, dan Geografi.
Kelompok ilmu terapan meliputi antara lain: ilmu-ilmu teknik, ilmu kedokteran, ilmu
teknologi pertanian.
Ilmu-ilmu dasar dikembangkan lewat penelitian yang biasa disebut sebagai
“penelitian dasar” (basic research), sedangkan penelitian terapan (applied research)
menghasilkan ilmu-ilmu terapan. Penelitian terapan (misalnya di bidang fisika bangunan)
dilakukan dengan memanfaatkan ilmu dasar (misal: fisika). Oleh para perancang teknik,
misalnya, ilmu terapan dan ilmu dasar dimanfaatkan untuk membuat rancangan keteknikan
(misal: rancangan bangunan). Tentu saja, dalam merancang, para ahli teknik bangunan
tersebut juga mempertimbangkan hal-hal lain, misalnya: keindahan, biaya, dan sentuhan
budaya. Catatan: Suriasumantri (1978: 29) menamakan penelitian dasar tersebut di atas
sebagai “penelitian murni” (penelitian yang berkaitan dengan “ilmu murni”, contohnya: Fisika
teori).
Pada perkembangan keilmuan terbaru, sering sulit menngkatagorikan ilmu dasar
dibedakan dengan ilmu terapan hanya dilihat dari fakultasnya saja. Misal, di Fakultas Biologi
dikembangkan ilmu biologi teknik (biotek), yang mempunyai ciri-ciri ilmu terapan karena
sangat dekat dengan penerapan ilmunya ke praktek nyata (perancangan produk). Demikian
juga, dulu Ilmu Farmasi dikatagorikan sebagai ilmu dasar, tapi kini dimasukkan sebagai ilmu
terapan karena dekat dengan terapannya di bidang industri.
Karena makin banyaknya hal-hal yang masuk pertimbangan ke proses
perancangan/perencanaan, selain ilmu-ilmu dasar dan terapan, produk-produk
perancangan/perencanaan dapat menjadi obyek penelitian. Penelitian seperti ini disebut
sebagai penelitian evaluasi (evaluation research) karena mengkaji dan mengevaluasi
produk-produk tersebut untuk menggali pengetahuan/teori “yang tidak terasa” melekat
pada produk-produk tersebut (selain ilmu-ilmu dasar dan terapan yang sudah ada
sebelumnya).
Bila tidak melihat apakah penelitian dasar atau terapan, maka macam penelitian
menurut bidang ilmu dapat dibedakan langsung sesuai macam ilmu. Contoh: penelitian
pendidikan, penelitian keteknikan, penelitian ruang angkasa, pertanian, perbankan,
kedokteran, keolahragaan, dan sebagainya (Arikunto, 1998: 11).
Ragam Penelitian menurut Pembentukan Ilmu

Ilmu dapat dibentuk lewat penelitian induktif atau penelitian deduktif. Diterangkan
secara sederhana, penelitian induktif adalah penelitian yang menghasilkan teori atau
hipotesis, sedangkan penelitian deduktif merupakan penelitian yang menguji (mengetes) teori
atau hipotesis (Buckley dkk., 1976: 21). Penelitian deduktif diarahkan oleh hipotesis yang
kemudian teruji atau tidak teruji selama proses penelitian. Penelitian induktif diarahkan oleh
keingintahuan ilmiah dan upaya peneliti dikonsentrasikan pada prosedur pencarian dan
analisis data (Buckley dkk., 1976: 23). Setelah suatu teori lebih mantap (dengan penelitian
deduktif) manusia secara alamiah ingin tahu lebih banyak lagi atau lebih rinci, maka
dilakukan lagi penelitian induktif, dan seterusnya beriterasi sehingga khazanah ilmu
pengetahuan semakin bertambah lengkap.
Secara lebih jelas, penelitian deduktif dilakukan berdasar logika deduktif, dan
penelitian induktif dilaksanakan berdasar penalaran induktif (Leedy, 1997: 94-95). Logika
deduktif dimulai dengan premis mayor (teori umum); dan berdasar premis mayor dilakukan
pengujian terhadap sesuatu (premis minor) yang diduga mengikuti premis mayor tersebut.
Misal, dulu kala terdapat premis mayor bahwa bumi berbentuk datar, maka premis
minornya misalnya adalah bila kita berlayar terus menerus ke arah barat atau timur maka
akan sampai pada tepi bumi. Kelemahan dari logika deduktif adalah bila premis mayornya
keliru.
Kebalikan dari logika deduktif adalah penalaran induktif. Penalaran induktif dimulai
dari observasi empiris (lapangan) yang menghasilkan banyak data (premis minor). Dari
banyak data tersebut dicoba dicari makna yang sama (premis mayor)—yang merupakan
teori sementara (hipotesis), yang perlu diuji dengan logika deduktif.

lanjut di post selajutnya.